#sekolah#pendidikan#kegiatanbelajarmengajar

KBM Tatap Muka di Zona Hijau Harus Terapkan Protokol Kesehatan

( kata)
KBM Tatap Muka di Zona Hijau Harus Terapkan Protokol Kesehatan
Screenshoot acara Lampung Post Webinar Series bertema Menata skenario kenormalan baru sektor pendidikan Lampung, Kamis, 2 Juli 2020.Dok.

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Satuan pendidikan di Lampung akan tetap bergulir saat menghadapi era kenormalan baru melalui dua konteks, yakni kegiatan belajar-mengajar (KBM) secara tatap muka dan KBM secara daring. Namun, pelaksanaannya berdasarkan zona risiko Covid-19. 

Pembelajaran tatap muka diperuntukkan daerah yang tergolong zona hijau. Sementara pola pembelajaran daring bagi daerah yang masih dalam zona kuning, zona oranye, dan zona merah.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan Lampung Sulpakar dalam acara Lampung Post Webinar Series bertema Menata skenario kenormalan baru sektor pendidikan Lampung, Kamis, 2 Juli 2020.

Dalam acara itu, selain Sulpakar, turut hadir sebagai panelis Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana, Guru Besar FKIP Unila Sudjarwo, Ketua Komisi V DPRD Lampung Yanuar Irawan, dengan moderator jurnalis Lampost Eka Setiawan.

Sulpakar melanjutkan daerah di Lampung yang termasuk zona hijau, yaitu Mesuji, Lampung Timur, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, dan Pringsewu. "Namun, meski zona hijau, yang menetapkan bisa-tidaknya belajar tatap muka adalah satuan pendidikan sendiri dengan mengajukan kepada pemerintah daerah. Nanti, pemda yang akan memberikan izin dimulainya pendidikan tatap muka tersebut," katanya.

Kedua pola itu, ujarnya, akan diterapkan di sekolah menengah pada tahun ajaran 2020/2021 yang akan dimulai pada Juli 2020. Dari kedua dua pola ini, prinsip yang dianut adalah kesehatan dan keselamatan sebagai prioritas dalam menetapkan pembelajaran. "Ini tidak bisa kita tawar; keselamatan dan kesehatan," ujar dia.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana menyatakan skenario tersebut merupakan langkah yang paling bijak dilakukan di era new normal. "Pola ini sangat fleksibel dengan kondisi di lapangan. Terlebih, sudah ada surat keputusan bersama tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran baru," kata Reihana.

Senada, Sudjarwo mengatakan meski menggunakan kurikulum yang sama, penerapan pola pembelajaran harus dibedakan sesuai kondisi. "Kurikulum tetap, tapi model boleh berbeda. Bisa pakai model daring atau model konvensional," ujarnya.

Namun, ujar Sudjarwo, model daring harus terus dikembangkan terutama pada daerah pedalaman agar siswa di daerah-daerah terpencil tidak tertinggal.

Sementara itu, Ketua Komisi V DPRD Lampung Yanuar Irawan menyatakan pihaknya belum merekomendasikan penerapan pendidikan di era new normal tersebut tanpa ada pembahasan yang lebih teknis. "Kalaupun ini harus dilaksanakan perlu ada metode-metode yang komprehensif,” katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar