#Refleksi#KawinPaksa#KojowiPrabowo

Kawin Paksa              

( kata)
Kawin Paksa              
Presiden Joko Widodo (kanan) berjalan bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri). Antara/Widodo S. Jusuf.

SAFARI politik ketua umum partai menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2019 membuat decak kagum. Kemarin,  kental permusuhan, caci maki, mengumbar fitnah. Hari ini, mereka saling berangkulan. Hanya politikus yang cerdaslah bisa melakoninya.

Rakyat bisa menonton drama politik itu. Tidak ada musuh dan teman abadi. Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah saling berangkulan. Menatap masa depan. Tadinya, demo di mana-mana menolak hasil pesta demokrasi. Semuanya mencair karena kepentingan. Koalisi bubar dengan sendirinya. Bagaimana cara menyelamatkan kapal yang lagi berlayar ini di laut.

Koalisi perhelatan pesta demokrasi merapuh sudah. Karena kawinnya sangat dipaksakan didasari kepentingan. Pada Pemilu Presiden 2014, Jokowi-Jusuf Kalla hanya didukung PDIP, PKB, NasDem, dan Hanura. Koalisi empat partai mampu memenangi pemilihan melawan Prabowo-Hatta. Koalisi lawannya lebih banyak, yakni Gerindra, PKS, PAN, Golkar, dan PPP.

Sementara Demokrat mengambil posisi penyeimbang. Belakangan PAN, Golkar, dan PPP tidak kuat menahan puasa kursi kekuasaan. Paruh Jokowi-Kalla berkuasa, partai itu minta bergabung dengan menempatkan kadernya di kabinet. Kini, hasil Pemilu 2019 bernasib sama dengan 2014. Partai koalisi bercerai menjelang pelantikan Jokowi menjadi presiden.

Dalam hitungan hari, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menyatakan terbuka mendukung Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang. Hal yang sama disampaikan juga putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Agus Harimurti. Padahal PAN dan Demokrat adalah partai yang paling getol mendukung Prabowo-Sandi.

Pada Pemilu 2014, Golkar dan PPP berada di barisan Prabowo. Pemilu 2019, mereka berpindah ke Jokowi. Sekali lagi tidak ada kawan dan musuh abadi!  “Kok bisa ya, tadinya Prabowo garang menantang Jokowi. Hari ini mereka saling berangkulan,” kata temanku Rizal dalam obrolan di sebuah kafe kawasan Way Halim, Bandar Lampung, Selasa (15/10).

Rizal adalah pendukung fanatik Prabowo-Sandi yang masih tergores dari kekalahan pilpres pada April lalu. Sementara jagonya diundang Jokowi ke Istana membahas masa depan negeri ini.  Aku bilang saja, “Itulah politik. Kemarin musuh. Hari ini berteman apalagi ditawari kompensasi jabatan.”

“Iya Bang. Sangat kental sekali bahwa koalisi yang dibangun partai hanya didasari kepentingan. Jika sudah usai, koalisi bubar dengan berbagai alasan untuk menyelamatkan partai,” kata Rizal. Mereka hanya bagi-bagi jabatan. PAN, Demokrat, dan Gerindra sudah disiapkan kursi di kabinet.

Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, dari rapimnas dan apel kader Partai Gerindra, Hambalang, Bogor, Rabu (16/10), dengan suara lantang berkata. ”Sekarang bergantung Pak Jokowi. Sikap Pak Prabowo intinya siap membantu dalam pemerintahan,” kata Dahnil.

Bahasa yang dibungkus Prabowo sebagai tawaran dan gagasan. Isinya membahas ketahanan pangan, energi, pertahanan, serta keamanan. Isyarat  ingin bergabung dalam kabinet. Tidak ada kalah dan tidak ada menang. Semua bicara dengan bermuara kepentingan berbangsa dan bernegara.  

***

Pertemuan politik untuk menjaga keutuhan dan kerukunan. Sikap satria tidak menjadi penumpang. Yang ada berstatus menumpang menginginkan negeri ini terbelah-belah. Kerusuhan Papua contoh nyata. Sel-sel teror dan paham radikal berkembang biak. Apalagi elite sangat rentan diadu domba! Gendrang terus ditabuh dari luar sana agar negeri menjadi kacau. Semua mengibarkan bendera ‘perang’.

Untungnya semua sadar. Panasnya politik itu meredup setelah elite saling menyapa. Berselang hari, Presiden Jokowi bertemu secara terpisah dengan Yudhoyono, Prabowo, dan Zulkifli Hasan. Tidak mau ketinggalan, Prabowo juga bersilaturahmi dengan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar.

Mereka saling memberikan masukan. Indah sekali! Kenegarawanan satu sama lain diekspresikan dalam silaturahmi. Sebuah keikhlasan menerima kekalahan dengan penuh kehormatan. Jokowi menaruh bersikap hormat dengan Prabowo.  Sangat terasa mereka tidak bersaing dalam pemilihan.

Jika dibandingkan kenegarawanan seseorang, usai presiden antara Yudhoyono dan Megawati. Pesta dimenangi Yudhoyono. Setelah itu? Rakyat bisa menilai hubungannya tidak seindah yang diimpikan. Perang dingin selama 10 tahun. Siapa negarawan yang sejati saat itu? Sanggup dan mampu menerima sebuah kekalahan. Belajarlah dari Jokowi dan Prabowo!

Dari safari politik itu, harusnya pemerintahan Jokowi-Ma’ruf  terjauh dari partai kawin paksa! Bukan juga dinasti. Jokowi-Ma’ruf anak rakyat. Kedua putra terbaik ini paham betul arti persahabatan. Menang merangkul yang kalah. Yang kalah legawa menerimanya. Negara ini akan kuat jika saling menerima kemenangan dan kekalahan.

Untuk itulah, Jokowi-Ma’ruf membutuhkan pembantu, menteri yang hebat menghadapi perang dagang Amerika dan Tiongkok yang belum jelas akhir perseteruannya. Apakah Tiongkok tersungkur atau sebaliknya? Amerika masuk jurang kehancuran. Lalu negeri ini berada di mana? Atau ikut-ikutan porak poranda dari perang dagang itu tadi.

Rakyat percaya Jokowi-Ma’ruf bukan sanderaan partai pemenang pemilu atau partai kawin paksa usai pilpres! Negeri ini berdiri kokoh saat ini dari keberagaman suku dan agama. Itu mengapa Jokowi mengisyaratkan bahwa isi kabinet kerja episode II didominasi oleh wajah baru dan baru.

Minggu sore, Jokowi-Ma’ruf resmi dilantik. Paling tidak, kabinet yang akan mengendalikan pembangunan lima tahun mendatang berasal dari kalangan ahli dan berimbang dari partai politik. Publik pasti menginginkan kabinet mayoritas diisi profesional, yakni 55%. Selebihnya jatahnya partai.

Itu pun tidak cukup! Jokowi memastikan pembantunya benar-benar bebas dari kepentingan pribadi dan kelompok. Harapannya pemerintahan jilid dua ini diterima pasar sehingga kabinetnya solid serta mampu menjawab tantangan yang mengadang.  ***

Iskandar Zulkarnain

Berita Terkait

Komentar