#PTLIP#beritalampung#tambangpasir

Kapal Tongkang PT LIP Kabur 

( kata)
Kapal Tongkang PT LIP Kabur 
Dokumentasi Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kapal Tongkang KM Mehad 1 milik PT LIP  yang sempat mengeruk pasir di sekitar perairan Lampung Selatan dekat Pulau sebesi dan Cagar Alam Laut,  Gunung Anak Krakatau (GAK) dikabarkan melarikan  diri pada Senin, 25 November 2019 siang.

Informasi yang dihumpun kapal tersebut melarikan diri karena bakal kembali disambangi oleh Gakkum KLHK dan Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung. Kapal tersebut diduga  melarikan diri atau berpindah ke arah Tanjung Tua, hingga bakauheni. 

"Kapal keruk Mehad 1, dan tongkangnya kabur,  dikabarkan sedang dikejar BKSDA, dan dua warga Pulau Sebesi, " Ujar Ruslando,  dari LSM amak Lamsel, Senin, 25 November 2019.

Dikonfirmasi, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung Hifzon Zawahiri, membenarkan hal tersebut. 

"Sekitar pukul 11, tadi meninggalkan lokasi awal,  Gakkum KLHK Juga tadi Coba xek ,  tapi tahu perkembangannya, "ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung Hifzon Zawahiri, Minggu, 24 November 2019.

Dari informasi  sementara yang didapat KSDA,  memang sudah ada pengerukan dengan menggunakan pipa penyedot, dan posisi kapal berdasarkan informasi  yang didapat BKSDA berjarak sekitar 8,125 mil dari Cagar Alam Gunung Anak Krakatau. 

"tapi informasi awal belum  fiks,  kita masih mau buatkan kronologi,  paparkan rinci,  pastikan koordinat,  untuk laporan  ke Dirjen,  tapi penindakan itu doaminnya,  Gakkum, " katanya. 

Kendati masih belum dekat dari Cagar Alam Laut GAK,  Hifzon menyebutkan pihaknya berupaya mencegah  dan melarang adanya upaya penyedotan pasir,  yang bisa merusak Cagar alam laut GAK.  Kemudian,  perairan Sebesi merupakan  wilayah konservasi, zona tangkap,  yang merupakan penyanggah dari kawasan GaK. 

"Tadi juga masyarakat  pulau sebesi bersikukuh menolak,  Adanya tambang pasir,  ada ratusan tandatangan  tadi di balai desa," katanya. 

Berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, tidak ada sama sekali ruang bagi penambang pasir laut di Bumi Ruwai Jurai. 

Berdasarkan pasal 15 ayat (1) sub zona pertambangan  hanyala minyak bumi dan gas alam,  tidak ada sama sekali aturan yang memperbolehkan penambangan pasir laut. 

Kemudian  pasal 15 ayat (2) sub zonasi minyak bumi dan gas alam adalah di sekitaran perairan Lampung Timur,  dengan kode sub zoba KPU-TB-MG-1 sampai KPU-TB-MG- 12 (0-12 mil dari bibir pantai).

Kawasan Pulau Sebesi dan Perairannya serta Canti merupakan  sub zona wisata bentang alam laut,  bukan merupakan zona pertambangan.  Hal tersebut tertuang dalam pasal 12 ayat (2), dengan kode Sub Zona KPU-W-BL-1.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar