#ujiandoktor#uinril#uinradenintan#humaniora

Kandidat Doktor UIN Raden Intan Tawarkan Konsep Maslahat Perkawinan

( kata)
Kandidat Doktor UIN Raden Intan Tawarkan Konsep Maslahat Perkawinan
Kandidat Doktor Program Pascasarjana UIN lampung Mahmudin Bunyamin. Foto: Dok


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Khazanah mazhab fikih diduga tidak sepenuhnya dapat mengakomodasi kondisi hukum perkawinan Islam modern. Menurut Mahmudin Bunyamin, dalam disertasinya yang berjudul, Penerapan Konsep Maslahat dalam Hukum Perkawinan di Indonesia dan Yordania, hukum yang baru harus mengakomodasi kemaslahatan hidup yang merupakan tujuan persyariatan hukum Islam di masa kini.

Menurut kandidat doktor program Pascasarjana UIN Lampung ini, hukum perkawinan di Indonesia dan Yordania juga tidak sepenuhnya berpegang pada mazhab fikih mayoritas di kedua negara tersebut. Namun, banyak nilai-nilai maslahat yang diakomodasi.

"Konsep maslahat yang diterapkan dalam hukum perkawinan Islam di Indonesia dan Yordania adalah konsep tercapainya suatu tujuan dari hukum itu sendiri, yaitu untuk tercapainya suatu kemaslahatan hukum dan menolak kemudaratan atau dengan prinsip melestarikan suatu hukum atau aturan yang sudah berlaku yang dianggap baik, serta mengembangkannya dengan hukum atau aturan yang lebih maslahat," kata dia, Kamis (20/12/2018).

Untuk memperoleh gelar Doktor dalam hukum keluarga Islam, Mahmudin akan menyampaikan disertasinya tersebut dalam ujian terbuka/promosi doktor di lantai III gedung Rektorat UIN Lampung, Jumat (21/12/2018), pukul 13.30. Ujian terbuka tersebut akan dipimpin Ketua sidang, Mukri, yang juga Rektor UIN Lampung. Penguji 1 (eksternal) Said Agil Husen Al-Munawwar, promotor (penguji 2) Suthan Syahril, co-promotor I (penguji 3) Khairuddin, co-promotor II (penguji 4) Erina Pane, penguji 5 Idham Kholid, dan Sekretaris sidang Yusuf Baihaki.

Mahmudin melanjutkan terbentuknya hukum keluarga di Indonesia dan Yordania tidak terlepas dari kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing negara sehingga konsep maslahat yang diterapkan dalam hukum keluarga di masing-masing negara memiliki ciri khas tersendiri.

"Konsep hukum perkawinan di Indonesia dan Yordania telah mengalami reformasi hukum dengan tidak hanya mengacu kepada satu mazhab, tetapi berbentuk talfiq dengan cara melihat kemaslahatan dari masing-masing pendapat. Kedua karakter hukum perkawinan tersebut tentunya dipengaruhi dari sisi sosial, budaya adat istiadat, sehingga kearifan lokal yang ada tersebutlah yang menuntut adanya reformasi hukum di masing-masing negara," ujarnya.

Firman Luqmanulhakim







Berita Terkait



Komentar