#tajuklampungpost#Seleksinasional#SNMPTN

Kalang Kabut Registrasi SNMPTN

( kata)
Kalang Kabut Registrasi SNMPTN
Ilustrasi. Foto: Google Images

REGISTRASI seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2020 sudah dibuka melalui laman portal ltmpt.ac.id pada 2 Desember 2019 hingga kemarin, 7 Januari 2020. Sayangnya, kesempatan pelajar 150 sekolah di Lampung untuk dapat mengikuti SNMPTN 2020 pupus. Pasalnya, pihak sekolah belum menyimpan permanen data pada akun Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) hingga penutupan pendaftaran akun pada Selasa (7/1), pukul 22.00.

Banyak sekolah di Lampung yang kalang kabut, merasa kesulitan atau kurangnya sosialisasi pendaftaran akun LTMPT sebagai syarat untuk masuk perguruan tinggi lewat jalur seleksi penerimaan mahasiswa yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia, dengan biaya pendaftaran seleksi yang ditanggung pemerintah alias gratis.

Kegagalan lebih dari seratusan sekolah di Lampung untuk mengirimkan siswa-siswinya ikut SNMPTN tersebut, pada tingkat teknis kebijakan baru itu tidak didukung persiapan matang. Padahal seluruh sekolah dan siswa yang hendak mengikuti SNMPTN maupun SBMPTN wajib registrasi akun di portal ltmpt.ac.id.

Proses yang panjang dan rumit pada tiap proses registrasi pembuatan akun LTMP menyulitkan pihak sekolah. Mulai dari data Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN), hingga verifikasi dan validasi akun, barulah sekolah bisa melakukan aktivasi akun menggunakan e-mail. Tanpa akun artinya hilang kesempatan siswa mengikuti SNMPTN bahkan SBMPTN.

Tidak hanya sekolah, registrasi akun LTMPT juga meski dilakukan siswa yang mendaftar menggunakan NISN, NPSN, dan tanggal lagi. Kemudian siswa bisa melakukan aktivasi akun menggunakan e-mail, verifikasi, dan validasi akun.

Tentunya proses tersebut menjadi cukup menyulitkan, apalagi MKKS SMA Lampung menyebutkan masih banyak kendala sarana-prasarana, mulai dari komputer yang mumpuni hingga jaringan internet, juga server di berbagai daerah. Belum lagi kesiapan sumber daya manusia atau operator sekolah yang tidak merata. 

Beberapa sebab lain akun sekolah belum terdaftar, di antaranya data yang diinput belum disimpan permanen sehingga dianggap belum final dan akreditasi sekolah yang belum disesuaikan dengan data dapodik.

Rumitnya alur dan proses untuk masuk perguruan tinggi bagi siswa sekolah tersebut seharusnya bisa dicarikan solusi. Kebijakan yang baik dan benar idealnya bisa membuat persoalan rumit menjadi sederhana, bukan memperumit hal-hal yang sederhana.

Tahun lalu, permasalahan registrasi seperti ini sudah menguak, semestinya pemerintah bisa mengevaluasi permasalahan sehingga tidak terulang saat ini. Termasuk sosialisasi lebih intens untuk mengurangi kendala.

Jangan sampai kebijakan tersebut malah membuat siswa-siswi berprestasi tidak mendapat lagi kesempatan untuk ikut masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN bahkan SBMPTN akibat keterbatasan akses sarana dan prasarana sekolah. ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar