#SepakBola#Timnas#IndonesiaVsMalaysia

Kalah Karena Lelah

( kata)
Kalah Karena Lelah
Skuat Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia-Medcom.id/Kautsar

JAKARTA (Lampost.co) -- 'AIB' itu akhirnya datang jua. Timnas Indonesia dipermalukan 'seteru abadi' Malaysia dengan skor 2-3 di depan lebih dari 50 ribu pasang mata pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis 5 September malam.

Timnas Garuda yang sepertinya bakal dengan mudah menjinakkan Harimau Malaya, justru menggelepar oleh ulah Sumareh (pemain naturalisasi Malaysia asal Gambia) di menit-menit akhir menuju pamungkas laga. Lalu, seperti yang sudah bisa diduga, banyak yang marah atas kekalahan ini, apalagi kalah oleh Malaysia di kandang sendiri.

Gengsi melawan Malaysia memang tiada tara. Timnas boleh kalah dari negara manapun--termasuk kalah dari Laos, misalnya--asal jangan kalah dari Malaysia. Ini sudah seperti hukum besi bagi Timnas. Maka, ramailah jagat maya dan perbincangan di mana-mana oleh beragam ekspresi geram dan marah.

Banyak yang menyalahkan pemain mengapa gagal fokus di paruh kedua setelah memimpin dengan skor 2-1 buah dari gol-gol Beto Goncalves.

Ada yang menghujat Andritany karena enggak lengket memeluk bola; ada yang geram dengan Manahati Lestusen karena kerap 'dikolongin' sayap Malaysia; ada pula yang menyebut Ricki Fajrin, Hansamu Yama, Evan Dimas, Zulfiandi, juga Lilipaly seperti kehilangan sentuhan sebagai pemain sepak bola.

Malah ada yang melebarkan alasan ke arah penonton yang ricuh di tengah laga sebagai biang kekalahan. Tapi, telunjuk paling banyak sebagai biang kekalahan tentu diarahkan ke Simon Mcmanamy, sang arsitek berkebangsaan Skotlandia, yang dianggap gagal meracik strategi.

Tapi, izinkan saya kali ini sedikit 'membela' Coach Simon. Menurut saya, embahnya biang, atau biangnya biang, dari kesalahan ini ialah kelelahan pemain. Loh, kok bisa? Coba lihat stamina pemain kita di babak kedua, lalu bandingkan dengan kebugaran pemain Malaysia.

Hasilnya, saat pemain kita makin ngos-ngosan dan mulai terkena badai kram, pemain Malaysia justru masih membabi-buta menggempur pertahanan yang dikawal Hansamu Yama dan kawan-kawan. Walhasil, gol demi gol Malaysia tercipta di tengah kelelahan yang akut itu.

Pertanyaan selanjutnya: mengapa pemain Timnas Garuda lebih cepat loyo ketimbang Harimau Malaya? Jawabnya sederhana: karena PSSI, induk olahraga sepak bola tertinggi di Republik ini, gagal menyusun durasi kompetisi yang masuk akal untuk kebugaran pemain.

Bagaimana pemain enggak gampang loyo kalau saat mengarungi kompetisi di Liga 1, tenaga mereka diforsir bak kuda pacuan. Mereka harus bermain rata-rata 3 kali sepekan karena dikejar tenggat akhir kompetisi yang harus sudah selesai pada 22 Desember 2019.

Padahal, kompetisi baru digelar bulan Mei 2019 dan diikuti oleh 18 klub dengan home base berserak: sebagian di Jawa, ada yang di Padang, Lampung, Jayapura, Bali, Makassar, Palangkaraya, Banjarmasin, juga Samarinda.

Bisa dibayangkan, pemain Persija yang harus bertandang ke Jayapura di hari Sabtu, lalu hari Selasa sudah harus bertanding lagi di Makassar, terus hari Jumat ke Samarinda, lalu Rabu pekan depannya kembali ke Jakarta sebagai tuan rumah. Apa enggak gempor?

Sedangkan pemain Malaysia yang sebagian besar bermain di Liga Super Malaysia punya kesempatan 'bernapas' yang lebih lega karena jadwal kompetisi kasta tertinggi di Negeri Jiran itu jauh lebih manusiawi jika dibandingkan dengan Liga 1.

Selain hanya diikuti oleh 14 klub, jarak home base di antara klub-klub tersebut juga tidak terlalu jauh. Hanya butuh 1 jam penerbangan bagi pemain Serawak FA untuk melawat ke Selangor FA. Itu cuma sepersebelas waktu tempuh lawatan Persipura Jayapura ke Semen Padang.

Bahkan, bila dibandingkan dengan kerapatan pemain yang berlaga di Liga Inggris, Liga Jerman, maupun Liga Spanyol, kepadatan bermain pemain Liga 1 lebih padat tiga kali lipat.Itu pun, pernah Jurgen Klopp, Pep Guardiolla, juga Jose Mourinho mengeluhkan padatnya kompetisi karena adanya Boxing Day (pertandingan saat liburan Natal dan Tahun Baru) di Liga Inggris.

Jadi, seandainya Timnas Indonesia dilatih Jurgen Klopp sekalipun tidak akan pernah klop selama PSSI masih asal-asalan dalam merencanakan kompetisi yang berujung pada keloyoan pemain. Problem kebugaran sepertinya sepele, tapi faktanya ia berujung fatal saat lebih dari 70 persen pemain ngos-ngosan saat laga masih menyisakan waktu lebih dari 30 menit.

Kekalahan menyakitkan di kandang mestinya menyadarkan PSSI dari pingsan panjangnya untuk lebih matang membuat perencanaan kompetisi. Janganlah liga yang digembor-gemborkan sudah profesional tersebut nyatanya dikelola secara amatiran oleh orang-orang yang, maaf, amatir pula.

Semoga pula Timnas masih dikaruniai mukjizat memenangi laga demi laga di kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 Grup G zona Asia ini. Semoga mukjizat itu masuk ke seluruh tulang sumsum seluruh pemain Timnas Garuda dan menjelma menjadi energi yang tak ada habis-habisnya. Ingat ada Garuda di dadaku, bukan perkutut di dadaku.

Abdul Kohar

Berita Terkait

Komentar