#bansos

Kades Trimodadi Lampura Diduga 'Mainkan' Bansos

( kata)
Kades Trimodadi Lampura Diduga 'Mainkan' Bansos
Gudang yang menjadi tempat penukaran dana BNPT warga dengan sejumlah komoditas. Lampost.co/Fajar


Kotabumi (Lampost.co) -- Kepala Desa Trimodadi, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara (Lampura), Mustafa, diduga memanfaatkan dana bantuan pangan non tunai (BNPT) yang diterima warganya. 

Aparatur di desa tersebut dituding menarik dana BNPT sebesar Rp600 ribu dari sekitar 140 keluarga penerima manfaat (KPM) dengan ditukarkan nota belanja berisi daftar paket komoditas yang dapat diambil di warung sesuai arahan kades. Arahan itu turut dilakukan seluruh kadus ke setiap rumah warga. 

Berdasarkan nota itu, terdapat rincian komoditas yang didapatkan penerima bansos, yaitu 30 kg beras seharga Rp315 ribu, tiga karpet telur Rp135 ribu, tiga kilogram jeruk Rp75 ribu, dan tiga kilogram kentang Rp36 ribu, serta 1,5 kg kacang hijau. 

"Uangnya diambil semua di rumah. Kami hanya dikasih kuitansi dan barangnya disuruh ambil di gudang. Itu saja yang kami dapat dengan duit itu," kata seorang penerima BNPT inisial W, yang sedang mengantre di gudang, Minggu, 27 Februari 2022.

Warga mengaku tak mengetahui jika dana BNPT itu bebas dibelanjakan dimanapun. Namun, Kades tersebut justru mewajibkan KPM menukarkan sembako di gudang sesuai arahannya. 

"Maunya ada sisa dari uang bansos itu karena keperluan kami cukup banyak. Selain kebutuhan pokok," ujarnya.

Kades Trimodadi, Mustafa, mengaku tidak pernah mengarahkan dan memaksa warga membeli sembako ke warung yang telah ditentukan. 

"Saya hanya menyarankan agar masyarakat dapat membelanjakan sesuai peruntukkannya, yakni membeli bahan pokok. Tidak ada yang mengarah-arahkan apalagi lainnya," ujarnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Lampura, Eka Dharma Thohir, mengatakan pihaknya akan mempelajari keluhan warga tersebut dan meninjau ke lapangan sebelum mengambil tindakan. Menurut dia, warga berhak memilih warung secara mandiri untuk membelanjakannya. 

"Penerima BNPT dari kantor pos dan bebas dibelanjakan ke ke mana saja. Bukan diarahkan, apalagi dipaksa. Tidak boleh seperti itu," kata Eka. 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar