#bpnt#bansos

Kades Sabahbalau di Lamsel Bantah Adanya Penekanan Belanja di Tempat Tertentu

( kata)
Kades Sabahbalau di Lamsel Bantah Adanya Penekanan Belanja di Tempat Tertentu
Warga Desa Sabahbalau, Lampung Selatan, saat menerima bantuan di Balai Desa Sabahbalau, Kecamatan Tanjungbintang, Lampung Selatan, Rabu, 20 April 2022. (Foto: Lampost.co/Sukisno)


Kalianda (Lampost.co) -- Sejumlah keluarga penerima manfaat (KPM) program sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Penebalan Program Sembako/Subsidi Minyak Goreng mengeluhkan adanya penekanan untuk membelanjakan uang yang diterimanya ke sebuah penyuplai di wilayah setempat. Namun, kepala desa Sabahbalau dan penyuplai membantahnya. 

Kades Sabahbalau Pujianto menyampaikan pihaknya tidak pernah memaksa masyarakat untuk membeli sembako di warung tertentu. 

"Saya ini ada masukan dari kadus-kadus katanya kasihan sama masyarakat kalau ambil di kecamatan jauh. Jadi, saya usulkan mengambilnya di balai desa biar dekat. Sekali lagi, saya tidak menyuruh aparatur desa untuk memaksa masyarakat untuk belanja di warung tertentu. Tadi saya sambutan langsung sampaikan dan setelah itu saya pulang," kata Pujianto di Balai Desa Sabahbalau, Kecamatan Tanjungbintang, Lampung Selatan, Rabu, 20 April 2022.

Penyuplai BPNT Andre mengatakan pihak CV Baja tidak pernah memaksakan para penerima bantuan sembako. 

"Kami tadi sudah sampaikan tidak mewajibkan masyarakat untuk belanja," ujar Andre.

Menurutnya, pihaknya sudah menyuplai bahan pokok sesuai aturan. Bahkan, pihaknya sudah banyak membantu masyarakat. 
"Sudah sesuai isinya, sesuai HET silakan cek saja," kata Andre.

Warga Dusun 3A, Siti Fatimah, mengaku, dipaksa membelanjakan uang yang baru saja diterima di penyuplai sembako yang sudah disiapkan pihak desa. Bahkan, ia mengaku diancam akan dikeluarkan dari daftar penerima atau Keluarga Penerima Manfaat (KPM) jika tidak menuruti perintah tersebut. 

"Yang di depan ngomong tanpa paksaan tapi petugas yang di belakang mewajibkan beli di sini. Kami pikirkan ke depannya, beli-beli saja biar aman. Gara-gara ricuh tadi dibongkar sama pak polisi akhirnya ketuanya ngomong tidak mewajibkan tapi anak buahnya bisik-bisik sama masyarakat agar tetap mengambil," ujar Siti.

Menurutnya, seharusnya pihak desa tidak harus menakut-nakuti warganya karena diwajibkan membeli juga kualitasnya kurang baik. 

"Pasti takut nanti gak dapat bantuan lagi karena sudah diancam. Coba lihat tuh dapat bantuan minyak goreng senilai Rp300 ribu ditukar minyak 13 pcs/900 ML merk Domus, ini kan merek murah mending kalau dapat Bimoli," kata Siti. 

Warga Dusun 3B, Yeni Astuti, menjelaskan dirinya mendapatkan bantuan BPNT pada Mei 2022 sebesar Rp200 ribu namun ditukar sembako dan bantuan minyak goreng Rp300 ribu yang ditukar minyak goreng merek Domus. 

"Kami menerima subsidi minyak goreng sebesar Rp300 ribu dan BPNT periode Mei 2022 sebesar Rp200 ribu tapi diwajibkan belanja di sini. Di Desa Waygalih itu gak diwajibkan beli, mengambil duit bawa pulang belanja di rumah. Saya sudah telepon saudara di Waygalih. Di sini malah riweh harus belanja di sini mengantre. Kami ini pada puasa loh," kata Yeni.

Di sisi lain, Kapospol Itera Aiptu Abdul Qodir mengatakan sempat terjadi ricuh karena banyak warga yang melapor isinya tidak sesuai dengan nominal bantuannya dan terkesan dipaksa untuk membeli. 

"Kami ini sifatnya cuma PAM pengamanan karena di dalam juga ada vaksinasi. Karena banyak warga yang mengeluh ke kami di luar, jadi kami coba sampaikan tadi di dalam gedung balai desa dengan pihak penyuplai," ujarnya.

Panitia menyiapkan sejumlah sembako BPNT di Balaidesa Sabahbalau, Kecamatan Tanjungbintang, Lampung Selatan, Rabu 20 April 2022. (Foto: Lampost.co/Sukisno)

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar