Tnbbsperambahan

Perambahan di TNBBS Menurun

( kata)
Perambahan di TNBBS Menurun
Lahan pertanian masyarakat Suoh, Lampung Barat. Lampost.co/Andi Apriadi


Lampung Barat (Lampost.co) -- Program Bestari yang melakukan pendampingan dan penyuluhan untuk masyarakat Desa Sukamarga, Kecamatan Souh, Lampung Barat, mengurangi aktivitas warga membuka lahan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Comunity Fasilitator Bestari, Sutardi, menjelaskan pendampingan yang dilakukan Bestari memberikan pelatihan dan edukasi tentang pertanian, pengelolaan keuangan dan ekonomi kreatif bagi warga yang tinggal di sekitar taman nasional. 

"Kalau untuk perambah hutan di TNBBS kami meningkatkan kemampuan mengelola pertanian untuk memperbaiki ekosistem di sini. Ada beberapa kelompok di bawah naungan Bestari, tapi sebagian yang kami libatkan mantan perambah hutan TNBBS," terangnya, Rabu, 23 Desember 2020.

Sutardi mengatakan, tidak menutup kemungkinan masih ada warga yang berkebun di taman nasional, tetapi tidak sebanyak dahulu. Pihaknya mempersentasekan saat ini jumlah perambah di kawasan TNBBS mulai berkurang. 

"Persentase kami sekarang warga yang tidak lagi merambah ada sekitar 70 persen. Sebagian lagi warga masih berkebun di TNBBS. Maka itu, kami bekerjasama dengan TNBBS untuk pemulihan ekosistem," kata dia.

Ia menjelaskan, guna mengajak masyarakat agar tidak membuka lahan di kawasan konservasi hutan. Pihaknya membentuk berapa kelompok, seperti Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Ampar Lestari, Kelompok Simpan Usaha (KSU), Kelompok pembibitan Andan Jejama, Kelompok Petani Organik (KPO) dan Dai Konservasi.

"Dibentuknya kelompok khusus bagi mantan perambah ini diharapkan tidak lagi membuka lahan dan menebang pohon di TNBBS," ungkapnya. 

Dia menuturkan, untuk memperbaiki tanah dan kesehatan masyarakat, pihaknya melatih memproduksi beras organik. Menurutnya selama ini para petani masih menggunakan pupuk yang kadar kimianya cukup tinggi. 

"Pupuk organik yakni kompos terbuat dari kotoran sapi, daun Gamal, gedebog pisang disemprot mol di fermentasi 21 hari, POC terbuat dari urin sapi, air cucian beras, daun Gamal dan mol. Sedangkan mol terbuat dari bakteri dari akar bambu," terangnya. 

Senada, Kepala TNBBS Resort Suoh, Sulki, mengatakan jumlah perambahan dan pembalakan liar di kawasan TNBBS mengalami penurunan. Namun, ia tidak menutup kemungkinan masih ada warga yang melakukan perambahan. "Alhamdulillah sekarang perambah mulai berkurang jauh dibandingkan dulu," ujarnya.

Ia mengungkapkan, menurunnya perambahan hutan dikarenakan sering dilakukan koordinasi dan mensosialisasikan dengan aparat desa tentang bahayanya merusak ekosistem hutan. 

"Adanya sosialisasi tentang bahaya merusak hutan kepada warga. Sehingga menyadarkan warga mengurangi perambahan dan pembalakan liar di kawasan taman nasional," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Desa Sukamarga, Ahim Abdiani, mengatakan pemerintah desa terus mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya perusakan hutan khususnya di kawasan TNBBS. Pihaknya bekerjasama dengan lembaga lain ditingkat kecamatan maupun di luar untuk mengadakan pelatihan pertanian bagi masyarakat guna meningkatkan sumber daya manusia. 

"Tahapan saat ini, kami laksanakan pelatihan ekonomi kreatif seperti kelompok usaha, budidaya lancang dan sebagainya. Diharapkan adanya pelatihan tersebut warga tidak merambah hutan," tandasnya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar