#nuansa#joker#Heath-Ledger#Batman-The-Dark-Knight
Nuansa

Joker

( kata)
Joker
Ilustrasi Pixabay.com


AKTOR Heath Ledger patutlah tersenyum semringah di alam baka sana. Pemeran Joker, Batman The Dark Knight, ini tentu bangga menyaksikan Joaquin Phoenix mampu menjadi suksesornnya memerankan sosok Joker, sang pangeran kejahatan Kota Gotham, dengan begitu apik nyaris tanpa cela.

Tak hanya Heath Ledger, para penonton termasuk saya yang menyaksikan olah peran Joaquin Phoenix dalam film besutan sutradara Todd Phillips ini tampaknya kompak mengamini jika sang aktor amat layak untuk meraih Oscar sebagaimana Heath Ledger 10 tahun silam.

Joker versi Joaquin Phoenix jauh lebih kelam dari apa yang pernah diperankan Heath Ledger sebelumnya. Film ini mengisahkan Arthur Fleck ak Joker yang mengalami gangguan saraf. Tak hanya itu, Arthur kerap mengalami perundungan bahkan siksaan fisik dari sebagian warga di lingkungannya. Arthur menjadi sosok terasing di tengah keramaian.

Berbagai deraan itu bertalian dengan problem Arthur di tempatnya bekerja. Ia harus kehilangan pekerjaan lantaran “ditikam” teman sejawatnya dari belakang. Depresi dan frustrasi Arthur memuncak manakala ia mengungkap sendiri kelainan saraf yang ia derita justru bersumber dari kekerasan fisik orang tuanya semasa ia kecil.

Joker lahir dalam pertentangan kelas teramat parah antara si kaya dan si miskin. Manakala frustrasi Arthur membuncah dan meletupkan amarahnya seraya menghabisi perundungnya, tiga pria kulit putih yang mewakili kaum borjuis kota, masyarakat kelas bawah justru membelanya. Tindak kriminal Arthur mendapat pembenaran bahkan memicu gerakan sosial.

Joker memang istimewa dan penuh kontroversi. Sepekan sebelum pemutaran perdana pihak keamanan di Kota Aurora, Negara Bagian Colorado, justru meningkatkan kesiagaan. Mereka tak ingin peristiwa penembakan masal yang merenggut 12 nyawa dan puluhan luka-luka pada 2009 silam kembali terjadi. Peristiwa itu ditengarai lantaran James Holmes, sang pelaku, terinspirasi Joker, Batman The Dark Knight. Mereka yang memiliki sakit mental dianjurkan untuk tidak menonton Joker.

Kontroversi Joker tak hanya sampai di situ. Setelah tayang pun film ini memicu perdebatan sengit. Sebagian kritikus menyatakan film ini bukanlah kritik cerdas terhadap peradaban manusia modern yang kian meminggirkan manusia lainnya. Justru Joker dianggap sebagai contoh yang tepat mewakili peradaban manusia modern yang busuk itu sendiri. Joker dituding telah membangun opini bahwa patologi sosial seperti halnya tokoh Joker patut dimaklumi.

Todd Phillips selaku sutradara mengaku amat terkejut dengan respons masyarakat dan kontroversi yang beredar. Menurutnya, rumus film Joker amatlah sederhana sebagai drama psikologi. "Film ini mengangkat soal kurangnya rasa cinta, trauma masa kecil dan kasih sayang di dunia. Saya pikir orang-orang bisa menangkap pesan itu," tutur Phillips dalam sebuah wawancara.

Terlepas dari semua itu, faktanya Joker meraup rekor 11 nominasi Oscar. Hasilnya? kita tunggu medio Februari mendatang. Tabik.

Bambang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar