#internasional#beritainternasional

Joe Biden Tegaskan Tak Ingin Mulai Perang Dingin Baru dengan Tiongkok

( kata)
Joe Biden Tegaskan Tak Ingin Mulai Perang Dingin Baru dengan Tiongkok
Presiden AS Joe Biden berbicara di Sidang Majelis Umum ke-76 PBB di New York, 21 September 2021. Eduardo Munoz/POOL/AFP


New York (Lampost.co) -- Presiden Amerika Serikat Joe Biden menggunakan kesempatan berbicara di Sidang Majelis Umum ke-76 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York untuk mendorong negara-negara mitra dalam menangani isu pandemi Covid-19, perubahan iklim, dan pelanggaran hak asasi manusia. Di waktu bersamaan, ia juga menegaskan AS tidak ingin memulai perang dingin baru dengan Tiongkok.

Pernyataan mengenai perang dingin merupakan respons Biden terhadap Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Sebelum pidato Biden, Guterres sempat mengungkapkan kekhawatiran mengenai rivalitas AS dan Tiongkok yang dapat berujung pada perang dingin seperti di era Uni Soviet.

"Kami tidak ingin memulai perang dingin baru atau memicu sebuah perpecahan global yang membagi dunia ke dalam beberapa blok," tegas Biden, dilansir dari laman 9News, Rabu, 22 September 2021.

Secara lebih luas, Biden menekankan pentingnya bagi pemimpin dunia untuk bekerja sama mengatasi pandemi Covid-19, perubahan iklim, menghadapi isu-isu teknologi, dan memperkuat aturan perdagangan.

"Kami akan memilih membangun masa depan yang lebih baik. Kami, Anda semua dan saya, mempunyai keinginan dan kapasitas untuk menjadikan semuanya lebih baik. Kita tidak boleh membuang-buang lebih banyak waktu. Kita dapat melakukan ini," ungkap Biden.

Sebab, pandemi Covid-19, Biden akan sangat membatasi kehadiran fisiknya di markas PBB. Setelah bertemu Perdana Menteri Australia Scott Morrison, ia dijadwalkan melanjutkan keseluruhan pekan Sidang Majelis Umum ke-76 PBB ini secara virtual.

Beberapa hari lalu, Guterres mendesak AS dan Tiongkok untuk memperbaiki hubungan mereka yang disebutnya sudah sangat tidak fungsional. Guterres khawatir rivalitas dua raksasa itu dapat berimbas kepada sektor keamanan global.

Rivalitas dua negara ini, dikhawatirkan dapat berujung pada terbelahnya dunia ke dalam beberapa blok. "Kita perlu menghindari perang dingin yang akan berbeda dari sebelumnya, mungkin akan jauh lebih berbahaya dan sulit ditangani," sebut Guterres.

 

 

 

 

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar