RSUDAMDPRDLampungBPJSDBD

Jika Terbukti Diskriminatif, RSUDAM Terancam Sanksi dari BPJS

( kata)
Jika Terbukti Diskriminatif, RSUDAM Terancam Sanksi dari BPJS
Kepala BPJS Bandar Lampung, Muhammad Fakhreza saat mengunjungi keluarga menyambangi keluarga Muhammad Rezki Mediansori di Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Rabu (12/2/2020). Armansyah

KALIANDA (Lampost.co) -- Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) terancam mendapatkan sanksi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bila terbukti memberikan pelayanan diskriminasi kepada pasien Muhammad Rezki Meidiansori (21) yang meninggal di selasar rumah sakit plat merah tersebut, pada Senin, 10 Februari 2020, lalu.

Hal tersebut diungkapkan, Kepala BPJS Bandar Lampung, Muhammad Fakhreza saat mengunjungi keluarga menyambangi keluarga Muhammad Rezki Mediansori di Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Rabu, 12 Februari 2020. Dia mengatakan jika RSUDAM terbukti melakukan dikriminasi kepada pasien peserta BPJS, maka ada sanksi yang akan diberikan kepada pihak rumah sakit. 

Baca juga: Selasar RSUDAM Jadi Saksi Rezki Embuskan Napas Terakhirnya

"Kami sudah berkunjung langsung ke rumah keluarga pasien BPJS yang meninggal di selasar RSUDAM. Bahkan, kami sudah meminta menceritakan kronologis dan mendengarkan klarifikasi dari pihak keluarga atau orang tua korban," kata dia.

Dari klarifikasi yang diterangkan oleh orang tua Muhammad Rezki Mediansori, kata Muhammad Fakhriza, pihaknya menduga RSUDAM telah memberikan pelayanan yang diskriminasi kepada pasien BPJS Kelas III mandiri tersebut.

"Dari keterangan keluarga korban, kami menduga adanya pelayanan yang bersifat diskriminasi yang diberikan pihak rumah sakit. Untuk itu, kami kesini untuk menyampaikan permohonan maaf dan berbela sukawa," kata dia.

Fakhreza mengatakan, dugaan adanya pelayanan yang bersifat diskriminasi tersebut lantaran pihak rumah sakit diduga tidak menjalankan pelayanan sesuai dengan prosedur kerjamasa antara BPJS Kesehatan dan RSUDAM. Salah satu bentuk diskriminasi itu, yakni pihak rumah sakit menginstruksikan keluarga pasein untuk membeli obat di luar dari rumah sakit. 

"Sesuai dengan prosedur pihak rumah sakit wajib memberikan pelayanan yang dibutuhkan pasien BPJS dan pelayanannya tidak boleh dibeda-bedakan. Pihak keluarga disuruh untuk membeli obat vitamin hati ini adalah adalah salah satu pelanggaran yang diskriminasi," kata dia. 

Dia mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti dengan mendengarkan langsung klarifikasi dari RSUDAM. Bahkan, Pihak rumah sakit bisa medapat sanksi apabila diskriminasi itu terbukti telah dilakukan.

"Keluhan apa adanya dari keluarga korban ini, akan kami koordinasikan langsung dengan pihak rumah sakit secepatnya. Kita ikuti saja prosedur kontraknya, apabila terbukti  ada diskriminasi tentu ada sanksi teguran tertulis. Bahkan, bisa saja pemutusan kontrak kerjasama apabila hal ini terulang kembali," kata dia. 

Sementara itu, Orang Tua Pasien, Lilik Ansori membenarkan bila dirinya sempat disuruh membeli obat. Lantaran itu demi kebaikan anaknya, ia pun langsung membeli obat yang diintruksikan oleh petugas kesehatan yang melayani pada waktu itu. 

"Ya, karena untuk kebaikan anak saya itu saya belikan saja obat. Kemudian, yang disayangkan kenapa anak saya itu dibawa-bawa mencari ruangan. Karena mencari ruangan itu anak saya meninggal di selasar," kata dia.

Winarko



Berita Terkait



Komentar