#petani#lampura

Jeritan Hati Petani Jagung Lampura di Tengah Wabah Korona

( kata)
<i>Jeritan Hati Petani Jagung Lampura di Tengah Wabah Korona</i>
Caption; petani Jagung Desa Negara Kemakmuran Kecamatan Hulu Sungkai, memanen jagung  di areal lahannya, Selasa (7-4-2020).

Kotabumi (Lampost.co) -- "Pusing saya mas, April 2020 ini harga panen jagung anjlok. Untuk jagung pipilan kering saja dihargai pengepul  Rp2 ribu/kilo, sedangkan biaya perawatan dari tanam sampai panen saja, sudah habis uang banyak, karena serangan hamanya luar biasa" ujar Andi, petani Jagung Desa Negara Kemakmuran Kecamatan Hulu Sungkai di areal lahannya, Selasa, 7 April 2020.

Dia mengatakan sebelumnya, harga jagung pipilan di tingkat pengepul saat panen raya Februari 2020 lalu, berkisar Rp2.750,-/kg,  pada Maret, prediksi dia harga jagung naik, tapi malah turun menjadi Rp2.500,-/kg dan akhir Maret 2020 kembali turun Rp2.200,-/kg dan April 2020 ini, malah anjlok di angka Rp2 ribu/kilo.

"Saya terpaksa memanen jagung sekarang, khawatir harganya terus merosot," ujarnya.

Disinggung angka kerugian yang di alami, dia menjawab, secara nominal tidak sebanding dengan pendapatan. Dalam 1 hektar (ha) areal jagung, modal yang dikeluarkan petani mulai dari pembelian bibit, upah tanam, pupuk, pestisida maupun biaya pembersihan lahan berkisar Rp4 juta s/d Rp5 juta dan untuk produktifitas hasil panen selama 4 bulan pemeliharaan berkisar 5 ton.

Jika dihargai Rp2 ribu/kg,  untuk jagung pipilan kering dengan produktifitas 5 ton, akan di dapat nilai nominal Rp10  juta. Di potong modal terkecil Rp5  juta di peroleh keuntungan hasil tani Rp  5 juta/ha dan di bagi 4 bulan masa pemeliharaan, nilai tenaga yang di terima petani perbulan  Rp1.250.000,-.

"Upah keringat saya selama panen jagung ini cuma Rp 5 juta dengan masa pemeliharaan hingga panen selama 4 bulan," kata dia.

Saat ditanya penyebab anjloknya harga jagung, dia menjawab, kata pengepul stok jagung di pabrik sedang penuh sehingga antrian mobil dari pengepul menjadi panjang dan pihak pabrik saat ini lagi kesulitan mengoper barang ke pulau Jawa sejak adanya wabah korona.

"Saya berharap wabah korona ini segera berlalu sehingga kehidupan petani kembali normal dan tidak dihantui rasa was-was kalau berpergian," tuturnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar