#Lampung#ProgramGerbangDesaSaburai#Percontohan

Jawa Tengah Contoh Gerbang Desa Saburai

( kata)
Jawa Tengah Contoh Gerbang Desa Saburai
Program Gerbang Desa Saburai. pelitanusantara.co.id


BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Gerakan Membangun Desa Sai Bumi Ruwa Jurai (Gerbang Desa Saburai) dijadikan percontohan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah. Program yang dicanangkan Pemprov Lampung itu menjadi rujukan daerah yang memiliki semboyan Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja tersebut dalam menyusun peraturan daerah tentang pemberdayaan desa.
Keseriusan dalam mempelajari program pemberdayaan desa di Bumi Ruwa Jurai itu ditunjukkan dengan kunjungan kerja 12 anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah yang dipimpin Masruhan Samsurie. Mereka berdiskusi bersama jajaran Pemprov dan DPRD Lampung di ruang Sungkai, Balai Keratun, Selasa (12/12/2017).
Masruhan menjelaskan pihaknya menjadikan Lampung sebagai rujukan dalam menyusun perda tentang pemberdayaan masyarakat desa. Sebab, provinsi yang memiliki 2.640 desa dan kelurahan ini dinilai memiliki penataan bagus dalam pemerataan pemerintahan dan kualitas desa.
"Desa saat ini menjadi primadona dengan gelontoran dana yang besar, baik dari pusat, provinsi, maupun kabupaten. Namun, kami masih membutuhkan ilmu dalam membuat regulasi tentang penataan aset dan pemerintahan desa yang baik. Terlebih desa yang dikategorikan maju di Jawa Tengah masih sedikit," kata dia.

Positif

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Hery Suliyanto mengatakan program Gerbang Desa Saburai dimulai pada 2015, dengan memberikan bantuan masing-masing Rp100 juta kepada 30 desa tertinggal. Berdasarkan hasil evaluasi, program berdampak positif bagi masyarakat desa sehingga anggaran dan jumlah desa yang menerima bantuan ditambah.
"Pada 2016, bantuan naik masing-masing Rp300 juta untuk 100 desa. Tahun 2017, anggarannya berkurang menjadi Rp240 juta, tetapi jumlah desanya kami tambah menjadi 250. Untuk 2018, desa penerima program akan ditambah menjadi 393 desa, dengan dana Rp240 juta per desa," ujarnya.
Hery menjelaskan tujuan inti program itu adalah sebagai pemberdayaan masyarakat desa dari segala sektor, baik pariwisata maupun kuliner, dan tidak terpatok pada pembangunan infrastruktur desa semata. "Ini kami lakukan bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk pendampingan masyarakatnya."
Dia melanjutkan hingga kini program tersebut berjalan dengan baik, tanpa disusupi konflik kepentingan antarpemerintahan. Sebab dalam penentuan desa yang mendapatkan bantuan terdapat kriteria dan penilaian guna memprioritaskan sasaran.
"Selama ini konflik tidak ada. Walaupun semua desa mengajukan, kami seleksi karena tidak semuanya desa mendapatkan dana. Dalam pengajuan juga harus jelas perincian penggunaannya," kata dia. 

Effran Kurniawan








Komentar