#jamugendong#obatherbal#nuansa#jamu

Jamu Gendong

( kata)
Jamu Gendong
Ilustrasi. Foto: Dok/Wikipedia


Sore itu, saat penghuni kompleks di perumahan kami sedang duduk santai sambil mengobrol, dari kejauhan terdengar suara sayup-sayup yang tak asing lagi di telinga.

Ya, suara itu berasal dari panggilan Mbok Jum, begitu sapaan akrab penjual jamu gendong yang sering berjualan keliling di kompleks perumahan kami. Ia memanggil-manggil, "Jamune, Mas, jamune," sembari melepas tali selendang den menaruh bakul yang digendongnya.

Seperti biasa, saya memesan jamu pahitan. Kadang juga jamu beras kencur atau pegal linu bila merasa badan pegal-pegal.

Usai meracik jamu, Mbok Jum bergegas memberikan segelas jamu kepada saya. Seraya membuka botol berisikan air jahe yang manis yang dituangkan seketika saat saya selesai minum jamu pahitan. Ramuan jahe manis ini seketika memudarkan rasa pahit yang ada di lidah, sehingga bagi orang yang minum jamu pahitan hanya sekejap merasakan rasa pahit.

Di balik itu, keberadaan Mbok Jum dan mbok-mbok jamu yang lain ternyata masih ada yang setia menggendong bakul jamu karena merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. Langganannya pun ternyata tak lapuk termakan oleh zaman.

Tetap saja mereka setia mengonsumsi jamu tradisional sebagai obat herbal. Bagi mereka jamu merupakan minuman kesehatan tradisional yang diramu dari berbagai rempah-rempah. Jamu juga baik untuk kesehatan atau sekadar menyegarkan badan agar selalu bugar.

Seperti apa yang diungkapkan oleh pemerhati masalah ekonomi pinggiran, Dwi Mukti Wibowo, bahwasanya Indonesia sangat dikenal dengan surganya rempah-rempah. Karena rempah-rempah ini, Belanda dan Jepang secara bergantian menginvasi Indonesia. Mereka datang ke Indonesia untuk mengambil rempah-rempah dan dibawa ke negaranya.

Untuk itu, tidak salah kiranya jika menganggap jamu gendong adalah local wisdom Indonesia. Jamu gendong berasal dari campuran rempah-rempah kekayaan Indonesia yang sebenarnya. Jamu gendong adalah obat alami ini sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.

Itulah sebabnya jika Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI menyatakan jamu gendong harus tetap dilestarikan sebagai usaha pelestarian pengobatan tradisional khas Indonesia dan sebagai pengobatan alternatif sebagai upaya promotif dan preventif kesehatan.

Apakah sekarang generasi muda sebagai penerus warisan budaya dapat menjaga dan melestarikannya? Ini yang menjadi banyak pertanyaan, karena banyak kaum muda yang menuruti rasa gengsi akan sebuah profesi menggendong bakul jamu.

Namun, tinggal bagaimana kita memasyarakatkan jamu gendong agar tetap menjadi minuman sehat di negerinya sendiri, yang digandrungi oleh setiap kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Yang terpenting, bagaimana masyarakat kita lebih memilih jamu sebagai minuman kesehatan dari pada produk-produk lain sebagai bagian dari pelestarian budaya Indonesia, khususnya kearifan lokal.

Adi Sunaryo/ Wartawan Lampung Post







Berita Terkait



Komentar