#puasa#ramadan

Jalan Muslim yang Terbelah

( kata)
Jalan Muslim yang Terbelah
Ilustrasi. MI/Duta (Mudhofir Abdullah)


DI bulan Ramadan, umat Muslim berlimpah ceramah, nasehat, dan narasi-narasi Islam konseptual lainnya. Saking overload-nya, narasi ceramah itu tak lagi dicerna dan lewat begitu saja laksana segala benda yang tersedot lubang hitam. Ini terjadi berulang sepanjang 1.400 tahun.

Pada awalnya, pesan-pesan Ramadan cukup efektif mengungkit peradaban. Ini misalnya, terlihat pada abad pertengahan di mana peradaban Islam memimpin dunia hampir tujuh abad lamanya dengan karya-karya monumental di bidang teologi, hukum, filsafat, dan sains. Lalu memudar setelah umat Muslim berbangga diri dengan seolah-olah berkata, “kami Muslim karena itu, kami telah sempurna”.

Bagaimana dengan dunia Islam kini? Seperti sebuah produk yang bisa mengalami masa purna, agama-agama pun--termasuk Islam--dapat terjatuh pada masa redup ketika tak ada lagi inovasi dan daya hidup terus-menerus.

Dengan meminjam konsep Chistensen tentang ‘disrupsi’, agama-agama mengalami disrupsi oleh kemajuan-kemajuan lain yang lebih dirasakan hadir dan efektif dalam mengelola kehidupan. Para apolog bersikeras bahwa Islam akan dilindungi Tuhan karena ia berasal dari-Nya. Islam akan bangkit di suatu saat. Tetapi, dengan ukuran-ukuran modern, dunia Islam kini terpecah dan ‘menuju bangkrut’ jika tak ada tindakan besar untuk pembenahan komprehensif lembaga-lembaga pendidikan Muslim. Memang sejak lama krisis dunia Islam dibaca oleh intelektual Muslim. Tapi, solusinya sulit ditemukan. Maka, dunia Islam terus berada di persimpangan jalan tanpa pernah tahu ke mana arah yang harus dipilih.

Tersedia dua jalan besar: jalan ‘turats’ dan jalan modernisasi. Jalan turats mengharuskan Muslim terikat oleh tradisi dan doktrin. Sementara jalan modernisasi memanfaatkan sarana-sarana dan metodologi kemodernan untuk menciptakan sebesar-besar kebahagian umat manusia.

Keputusan atas dua pilihan itu menghasilkan struktur masyarakat Muslim yang terbelah hingga hari ini. Tapi sayangnya, pertarungan dua jalan tersebut dimenangkan mazhab turats.

Bisa saja ada jalan ketiga, misalnya. Jalan ketiga ini oleh Fazlur Rahman disebut metode double movement, yakni metode bolak-balik antara jalan turats dan modernisasi. Namun implementasinya sulit, karena sejauh apa pun turats lebih sering dikalahkan jika dihadapkan pada pemecahan teknis. Dalam konteks ini, saya lebih setuju Malek Bennabi—intelektual Maroko—yang lebih memilih jalan modernisasi ketimbang jalan turats.

Seperti agama yang menjanjikan kebahagiaan, modernisasi juga menjanjikan hal yang sama. Namun, yang disebut kedua (modernisasi), lebih efektif dan dirasakan nyata dalam mewujudkan kebahagiaan. Misalnya, jika kebahagiaan diukur dari parameter ‘human development index’ yang terdiri atas kesehatan yang bermutu, pendidikan yang bermutu, dan pendapatan yang bermutu, maka bangsa-bangsa yang mengalami modernisasi menjadi penenangnya. Parameter ini sebagian juga masuk dalam unsur-unsur yang menjadi indikator untuk mengukur religiousity index sebuah bangsa.

Hossein Askari dan Rehman pada 2014 merilis bahwa bangsa yang paling Islami adalah Irlandia.Disusul Denmark, Swedia, Inggeris, Belanda. Dari 50 rangking negara-negara yang paling Islami, tak ada satu pun dari Timur Tengah. Askari memasukkan unsur-unsur seperti paling toleran, stabil, menghormati HAM, disiplin, dan lain-lain yang sangat diperintahkan Alquran. Dan unsur-unsur itu banyak dipraktikkan negara-negara tersebut.

Apa artinya? Islam konseptual yang sangat bagus dan pernah jaya di abad-abad pertengahan telah meredup di tataran aktual. Dan kita hari ini sedang mengalami irelevansi dengan aktual-aktual kehidupan. Tak ada jalan lain kecuali kita berkolaborasi untuk pengejawantahan kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan sebanyak-banyak manusia tanpa tersekat oleh kotak-kotak kemazhaban, golongan, agama, ras, dan bangsa.
 

*Mudhofir Abdullah, Rektor IAIN Surakarta

Winarko







Berita Terkait



Komentar