#pemkablamsel#pembangunan

Jalan Menuju Desa Tak Tersentuh Pembangunan, Dampaknya Keguguran Kehamilan

( kata)
Jalan Menuju Desa Tak Tersentuh Pembangunan, Dampaknya Keguguran Kehamilan
Jalan menuju desa Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel), disebut tak pernah tersentuh pembangunan. Padahal akses untuk kawasab perkebunan sawit milik pemerintah itu kondisinya masih berupa tanah merah. Lampost.co/Febi


Kalianda (Lampost.co) -- Jalan menuju desa Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel), disebut tak pernah tersentuh pembangunan. Padahal akses untuk kawasab perkebunan sawit milik pemerintah itu kondisinya masih berupa tanah merah.

Kondisi itu tak sedikit membuat warga kerap mengalami keguguran pada kehamilannya saat melintas di jalan tersebut. Selain itu, jalan yang licin saat hujan membuat masyarakat kerap kecelakaan. Sedangkan pada musim kemarau jalanan akan dipenuhi debu. 

"Jalan ini panjangnya sekitar 2 kilometer tidak pernah ada pembangunan, seperti penaburan batu atau pengaspalan. Mungkin karena di tengah kebun sawit, jadi yang membangun juga harus dua pihak antara pemerintah dan pihak perkebunan," kata Heru (32), pedagang yang melintas di lokasi, Minggu, 19 Juni 2021.

Menurut Hery, kondisi jalan yang tidak layak dilalui itu membuat warga kerap mengalami kecelakaan. Bahkan, banyak ibu hamil yang mengalami keguguran saat melintas. "Saya dengar banyak ibu hamil keguguram saat lewat sini, karena jalannya rusak," kata dia. 

Kepala Desa Rejosari, Teguh Maulana, membenarkan banyaknya warga yang mengalami keguguran. Hal itu terjadi saat warga hendak memeriksakan kandungannya dan harus melewati jalan tersebut. Kondisi jalan yang rusak pun sangat mempengaruhi kehamilan. 

"Tahun ini saja ada empat laporan ibu hamil yang keguguran. Kami konsultasi ke dokter benar kondisi jalan yang sering dilalui mempengaruhi. Untuk itu kami sangat berharap jalan itu diperbaiki dan dibeton," kata Teguh. 

Sebab, lanjutnya, selama 34 tahun jalan kabupaten itu hanya sebatas penimbunan lubang lubang besar. Untuk itu diharapkan Pemkab dan pihak perkebunan bisa berkolaborasi membangun jalan tersebut. "Kalau dibilang jalan paling jelek di Natar ya jalan menuju desa kami," katanya.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar