#Mimbar#pandemi#olimpiade2020

Jalan Bushi

( kata)
Jalan Bushi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Dok MI


ADA pertanyaan besar mengapa Jepang ngotot menggelar Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 di tengah pandemi covid-19 yang masih belum terkendali? Ada dua jawaban, setidaknya menurut sejumlah analis ‘Negeri Matahari Terbit’ itu.

Jawaban pertama, Jepang tak mau kelewat rugi. Pemerintah di bawah Perdana Menteri Yoshihide Suga itu sudah menggerojokkan uang lebih dari Rp150 triliun untuk persiapan Olimpiade 2020. Jika batal, uang sebesar itu terasa mubazir. Apalagi ekonomi Jepang sedang merosot, terkontraksi 5,1% di kuartal pertama 2021 ini.

Dengan tetap menggelar pesta olahraga sejagat itu, paling tidak tetap ada pemasukan uang walau tidak sesuai ekspektasi. Di tengah lonjakan kasus positif korona menjelang pembukaan Olimpiade (dalam sepekan terakhir rata-rata kasus positif covid-19 di Jepang lebih dari 3.800 per hari, naik dua kali lipat daripada kondisi akhir bulan lalu), Jepang amat membatasi jumlah penonton yang menyaksikan langsung ke venue-venue cabang olahraga.

Bagi panitia dan atlet, penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade di Tokyo, dengan atau tanpa penonton domestik, pastinya memiliki dampak perbedaan yang besar. Menggelar event olahraga besar kelas dunia di tengah pandemi covid-19 dengan penonton maksimum 10 ribu per venue atau 50% dari kapasitas normal pastinya tidak akan membuat banyak perbedaan dalam hal ekonomi. Apalagi PM Suga telah memutuskan pemberlakuan darurat covid-19 di Jepang mulai 12 Juli hingga 9 Agustus nanti. Olimpiade pun tanpa penonton.

Beberapa ekonom pun mulai menghitung untung rugi bagi ekonomi Jepang melalui Olimpiade Tokyo ini. Takahide Kiuchi, ekonom eksekutif di Nomura Research Institute, memperkirakan keuntungan ekonomi dari Olimpiade Tokyo akan mencapai 84 miliar yen atau US$16 miliar (sekitar Rp225 triliun) jika penonton diizinkan di setiap tempat sesuai dengan batas kehadiran.

Angka tersebut lebih kecil, atau turun 4,9%, dari perkiraan keuntungan ekonomi yang dapat menghasilkan 1,81 triliun yen untuk Olimpiade yang diadakan pada waktu normal atau tanpa batas kehadiran penonton domestik dan internasional. Namun, penyelenggara Olmipiade Tokyo sendiri telah melarang penonton dari luar negeri untuk datang dan menonton Olimpiade di Jepang. Bahkan setelah pemberlakuan darurat, upacara pembukaan dan penutupan serta berbagai macam pertandingan Olimpiade praktis tanpa penonton.

PM Jepang Yoshihide Suga tetap optimistis pada penyelenggaraan Olimpiade yang digelar mulai kemarin hingga 8 Agustus 2021 nanti. Menurut Suga, meski keuntungan ekonomi akan turun menjadi 1,66 triliun yen (bahkan mungkin turun lagi hingga separuhnya), atau 91,9% dari keuntungan pertandingan yang diadakan dengan penonton full, ia memandang bahwa kerugian seperti itu bukan sebagai kerugian yang besar.

Bagaimanapun Jepang telah mendapatkan keuntungan besar secara ekonomi menjelang penyelenggaraan pertandingan. Keuntungan tersebut didapatkan dari pembangunan infrastruktur yang diperlukan, seperti tempat kompetisi dan fasilitas akomodasi untuk atlet serta para staf panitia yang terlibat.

Toru Suehiro, ekonom senior di Daiwa Securities Co, mengatakan pembatasan yang lebih ketat, seperti membatasi pergerakan orang, akan berdampak negatif dari 300 miliar yen hingga 400 miliar yen pada konsumsi masyarakat pada kuartal Juli-September jika dibandingkan dengan skenario yang mana tidak ada Olimpiade yang diadakan. Dari sejumlah analisis itulah, agar ekonomi Jepang tidak seret-seret amat, Olimoiade Tokyo tetap dihelat.

Jawaban kedua soal mengapa Jepang tetap menggelar Olimpiade 2020 ialah Jepang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka menolak takluk dari covid-19. Spirit Bushido yang berasal dari nilai-nilai moral samurai sedang digelorakan. Itulah spirit menolak takluk sebelum bertarung dan menjunjung kehormatan hingga titik darah penghabisan.

Semua ajaran 'jalan Bushi' itu menanamkan sikap moral positif, seperti keberanian, kehormatan dan harga diri, kesetiaan dan pengendalian diri, kesungguhan, kejujuran, hemat, kemurahan dan kerendahan hati, kesopanan dan keramahtamahan, kerja keras, tidak individualis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati, serta harus tahu malu. Nilai-nilai tersebut ditransformasikan negara Jepang modern di berbagai lini, termasuk di bidang olahraga, lewat perhelatan Olimoiade Tokyo kali ini.

Mulai kemarin, sekitar 15 ribu atlet berkumpul di Tokyo, Jepang, untuk betkompetisi demi mengangkat kehormatan negara mereka masing-masing, termasuk Indonesia. Semangat pantang menyerah para atlet, juga penyelenggara, mestinya menular ke sekujur tubuh negeri ini dalam melawan pandemi.

Winarko







Berita Terkait



Komentar