#korupsi#benihjagung

Jaksa Bacakan BAP Tersangka yang Meninggal dalam Kasus Korupsi Jagung

( kata)
Jaksa Bacakan BAP Tersangka yang Meninggal dalam Kasus Korupsi Jagung
Sidang kasus korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian yang dialokasikan untuk Lampung tahun 2017, kembali digelar di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 23 Desember 2021. Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang kasus korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian yang dialokasikan untuk Lampung tahun 2017, kembali digelar di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 23 Desember 2021.

Dua terdakwa dalam kasus tersebut yakni mantan Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung, Edi Yanto; dan Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti, Imam Mashuri. Total kerugian negara dari pengadaan benih Jagung PT Dempo mencapai Rp7,5 miliar.

Dalam agenda sidang pemeriksaan saksi dan keterangan ahli, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan berita acara pemeriksaan (BAP), Herlin Retnowati, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan juga Kabid di Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung. BAP dibacakan karena yang bersangkutan telah meninggal dunia sebelum perkara disidangkan. Almarhum diketahi salah satu tersangka dalam kasus ini.

Dalam BAP, Herlin ditunjuk sebagai PPK berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Lampung saat itu, M Ridho Ficardho, dalam pelaksanaan kegiatan benih jagung anggaran tahun 2017.

Awalnya Kementan RI menyebutkan seluruh satker diharuskan menyiapkan proposal pengajuan bantuan benih jagung paling lambat 31 Maret 2017. Proposal pun dibuat oleh Kassubag Perencanaan pada Sekretariat Dinas Pertanian dan Holtikultura Provinsi Lampung.

"Setelah proposal diajukan lalu disetujui mereka (Kementrian)," ujar JPU Volanda, saat membacakan BAP Herlin.

Kemudiam Ditjen memerintahkan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura untuk menyiapkan usulan calon penati dan calon lahan sebelum akhir 2016, sehingga awal 2017 kegiatan dapat dilaksanakan. Kemudian untuk pengadaan benih jagung sebesar Rp141 miliar, untuk pengembangan jagung seluas 130 ribu hektare yang terdiri dari budidaya jagung komposit 15 ribu hektare, dan budidaya jagung hibrida 175 hektare. Herlin berkoordinasi dengan pihak distributor agar bisa menyalurkan benih jagung Hibrida Balitbang.

"Ada16 perusahaan yang masuk dalam daftar panjang mengajukan pengadaan benih itu untuk disalurkan ke kelompok tani. Saat itu saya mendapatkan rekomendasi apabila ada sebuah perusahaan yang bisa melakukan pengadaan benih jagung itu. Saat itu saya mendapatkan rekomendasi dari Kepala Dinas Edi Yanto," papar JPU .

Dalam BAP Herlin mengakui pihaknya diperiksa pusat dengan hasil adanya kekurangan administratif dan tindaklanjutnya sudah dilakukan pembinaan. Kemudiam ada juga audit hasil pemeriksaan bahwa indikasi kerugian anggaran oleh PT Dempo senilai Rp8 miliaran.

Dalam BAP penyidik menanyakan apakah dirinya tidak melakukan pemeriksaan legalitas perusahaan PT Dempo, jawab Herlin data (legalitas) tersebut berdasarkan data dari internal bidang teknis UPTD. Untuk legalitas pemeriksaan perusahaan itu tidak dilakukan oleh pihaknya. Sedangkan perusahaan yang baru pihaknya masukan ke dalam daftar panjang itu berdasarkan dari data data yang ada di provinsi.

"Bahwa memang benar dalam aturan tidak dikenal adanya daftar panjang dan pendek. Namun data itu saya serahkan kepada Bankes sebagai informasi kepada panitia untuk dapat dimanfaat kan sesuai ketentuan yang berlaku," bunyi BAP.

Selain itu, dalam pemeriksaan Herlin ditanya apa yang dimaksud dengan penunjukan langsung kepada produsen, jawab Herlin bahwa benar tidak semua produsen mau menerima langsung proses penyaluran pengadaan pemerintah dalam proses komunikasi itu. Dan dalam proses komunikasi itu produsen pun menunjukan kepada pihaknya untuk di Lampung telah ditunjuk distributor namun ada juga produsen yang menanyakan langsung proses pengiriman yaitu PT Agro Makmur Pertiwi.

"Pada poin 17 penyidik bertanya, seberapa jauhkah Dinas keterlibatan penyaluran ke kabupaten dalam pendistribusian bantuan jagung di wilayah. Dijawab Herlin, sebatas hanya penyusunan CPCL (calon petani calon lahan) saja. Selanjutnya dalam penerimaan barang yang melibatkan petugas lapangan baik penyuluh dan koordinator penyuluh," lanjut JPU.

Lalu jaksa melanjutkan lagi pembacaan surat pemeriksaan milik Herlin, dimana dalam poin pemeriksaan No.19 apa dasar kadis menunjuk pihak panitia yang berperan dalam sebagai panitia penerima hasil pekerjaan. Dijawan Herlin dasar penunjukan itu perwakilan dari unsur unsur petugas. Penyidik juga bertanya alasan Herlim menunjuk PT Dempo sebagai variates benih jagung Bima 20 uri.

"Dijawaban Herlin benar karena ada penunjukan dari PT Esa berdasarkan surat dukungan yang dikeluarkan bulan Januari maka PT Dempo masuk list perusahaan yang mampu," paparnya.

Kembali, penyidik bertanya ke Herlin dalam poin 11, apakah ada data dokumen menjadi dasar harga benih jagung di pasaran lebih tinggi daripada harga acuan. Lalu dijawab Herlin, tidak hanya survei lapangan dengan para pengecer bahwa benih yang varietas dibutuhkan dan ditunjuk oleh Balitbangtan belum ada pasaran di Lampung.

Herlin menyebut harga ditetapkan oleh Balitbangtan sebesar Rp54 ribu per kilogram. Kemudian setelah disurvei harga terlalu tinggi.

"Sehingga saya (Herlin) turunkan Rp48 ribu per kilo namun untuk kegiatan penyusunan saya tetapkan sesuai surat edaran direktorat jenderal tanaman pangan," papar JPU.

Dipertanyaan penyidik poin 21, penyidik bertanya ke Herlin apakah alasan sehingga tidak berhubungan langsung dengan PT Esa terkait pengadaan bantuan benih jagung. Herlin menjawab  Dirinya  diarahkan oleh terdakwa Edi Yanto untuk mengecek benih berdasarkan informasi yang diterima oleh Kadis oleh Imam Mashuri untuk melakukan pengecekan di gudang Yudesari bumi Indonesia.

Lalu pertanyaan penyidik poin 21, apa alasan Herlin mengajukan perjanjian kontrak dengan PT Dempo (yang) mengaku sebagai distributor dari PT Esa dan surat distributor yang Herlin terima, karena anda ketahui PT Esa tidak memiliki produksi benih jagung, apalagi PT Esa tidak pernah dikunjungi atas ketersediaan benih jagung.

"Dijawab Herlin, dapat saya sampaikan bahwa saya lakukan atas perintah berupa permintaan dari Kadis Edi Yanto di ruang kerja kepala dinas. Dia mengatakan kepada saya bahwa untuk jagung hibrida umum sudah dikoordinasikan sama Ilham Mendrofa. Untuk Balitbangtan kasih saja ke Imam Mashuri," papar JPU.

Selanjutnya dalam BAP nomor 25 disebutkan, ketika menghadap ke ruangan Edi Yanto, sedang afa pengarahan dan perintah dari Edi selaku Kadis, bahwa jagung hibrida umum akan dkoordinasikan oleh Ilham mendrofa.

"Untuk Balitbangtan kasih saja ke Imam Mashuri," bunyi BAP.

Saksi lainnya dari Auditor Independen selaku lembaga yang digunakan penyidik dalam menentukan kerugian negara. Dari hasil audit ditemukan kerugian negara Rp7,5 miliar.

"Benar, dari hasil audit," kata Danan dari pihak auditor.

Winarko








Berita Terkait



Komentar