#kebijakan#ekbis#bankindonesia#perekonomian

Jaga Stabilitas Ekonomi Makro, Begini Kebijakan BI

( kata)
Jaga Stabilitas Ekonomi Makro, Begini Kebijakan BI
Kepala Kantor Perwakilan BI Lampung, Budiharto. Foto: Dok

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%. Kebijakan bank sentral tersebut dikeluarkan sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan negara agar dapat mengelola dampak perubahan ekonomi tetap bertahan baik ditengah ketidakpastian global.

Kepala Kantor Perwakilan BI Lampung, Budiharto menjelaskan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6%, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 6,75%. Keputusan itu sebagai langkah menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman.

"Keputusan itu berdasarkan hasil rapat dewan gubernur BI pada 14-15 November 2018 lalu. Kebijakan ini juga untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan," kata Budi kepada Lampung Post, Jumat (16/11/2018).

Dia melanjutkan, untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas perbankan, BI juga menaikkan porsi pemenuhan GWM Rupiah Rerata dari 2% menjadi 3%, serta meningkatkan rasa Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) yang dapat direpokan dari 2% menjadi 4% masing-masing dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

"Dalam kebijakan PLM, BI tetap mempertahankan rasio countercyclical capital buffer (CCB) pada 0% dan rasio intermediasi makroprudensial pada target kisaran 80%-92%. BI juga kedepan akan mengoptimalkan bauran kebijakan guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujarnya.

Menurutnya, BI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal. Termasuk untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan, sehingga menurun menuju kisaran 2,5% PDB pada 2019.

"Bauran kebijakan BI dan pemerintah diyakini akan dapat mengelola dampak perubahan ekonomi global, sehingga perekonomian tetap berdaya tahan ditengah ketidakpastian global," katanya.

Effran Kurniawan



Berita Terkait



Komentar