#KORUPSI#BERITALAMPUNG

Instruksi Kajati Lampung soal Kasus Satono Siap Ditindaklanjuti

( kata)
Instruksi Kajati Lampung soal Kasus Satono Siap Ditindaklanjuti
Salah satu aset milik Satono dan Alay yang dieksekusi kejari Bandar Lampung. Dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) –Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bandar Lampung, Abdullah Denny Noer, siap menindaklanjuti Instruksi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung Heffinur ihwal melacak orang-orang yang diduga menyembunyikan Satono dan mengeksekusi uang pengganti kerugian negara sebesar Rp10,58 miliar seperti menyita aset atau menyita harta dari ahli waris.

"Kami siap tindaklanjuti perintah Pak Kajati," ujar Abdullah melalui telepon, Jumat, 23 Juli 2021.

Ia menunggu petunjuk teknis dan arahan secara perinci dari Kejati Lampung atas perintah tersebut. Abdullah juga belum bisa memaparkan secara spesifik di mana Satono meninggal meski dikabarkan berpulang pada 12 Juli 2021 di Jakarta.

"Tim di lapangan terus bekerja (Teknis). Tidak bisa dipaparkan secara perinci," kata Kajari.

Baca juga :Kajati Lampung Lacak Orang yang Sembunyikan Satono

Diberitakan sebelumnya, Kajati Lampung Heffinur terus melacak orang-orang yang berada dibalik persembunyian Satono selama menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) sekitar 9 tahun. Terkait uang pengganti sebesar Rp10,58 miliar, Kajati menyatakan secara keperdataan akan dibebankan ke keluarganya untuk mengganti kerugian negara.

Menurutnya, korps Adhyaksa telah memburu Satono hingga beberapa daerah. Mulai Lampung, Palembang, hingga DKI Jakarta. Sosialisasi Satono selaku DPO dan buronan lainnya juga sudah dilakukan sejak dahulu melalui berbagai media.

Baca juga :Jaksa Siapkan Strategi Baru Kejar Aset Mendiang Satono

Namun, semua upaya perburuan terhadap Satono itu tidak ada hasilnya hingga ia dinyatakan meninggal pada 12 Juli 2021 di Jakarta. Satono dikabarkan tiba di rumah kakaknya Rahmat Palal, di Dusun II, Desa Pekalongan, Kecamatan Pekalongan, pada 12 Juli 2021 pukul 13.56 WIB.

Jenazah Satono dari Jakarta dibawa melalui jalan darat menggunakan mobil pribadi Mistsubishi Expander warna abu-abu dengan nopol BE 1692 YL. Jenazah Satono tidak dibawa dengan ambulans meski saat itu Jakarta memberlakukan PPKM Darurat.

 

 

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar