#dokterspesialis#insentifdokter#RSUDAM#mogokkerja

Insentif Lebih Rendah dari Perawat Jadi Alasan Dokter Spesialis Menggugat

( kata)
Insentif Lebih Rendah dari Perawat Jadi Alasan Dokter Spesialis Menggugat
Foto : Dok Lampost.co

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Prambudi Rukmono memastikan bahwa pelayanan di RSUDAM khususnya di klinik SMF anak tetap berjalan. Meski demikian,  ia mengakui para dokter tetap melayangkan gugatan kepada menejemen RSUDAM.

"Pihak manajemen sudah mau menerima usulan kami. Kami tidak jadi menghentikan pelayanan anak, pelayanan tetap berjalan. Surat itu beredar sebelum kita difasilitasi pihak manajemen,sehingga tidak ada dasar kami menghentikan pelayanan," kata Prambudi, saat dihubungi, Senin, 9 September 2019.

Ia menegaskan sebagai dokter spesialis tidak meminta  bayaran mahal. Hanya saja, agar profesinya sebagai dokter spesialis dihargai oleh pihak rumah sakit. Pasalnya selama ini jasa dokter spesialis lebih rendah dari pada perawat, petugas administrasi, maupun dokter umum. Bahkan kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan terus berlangsung sampai sampai saat ini tanpa kejelasan

"Kamikan dokter spesialis yang mendatangkan pasien, kalau memang tidak ada (insentif, red), harusnya ya tidak ada semua ya tidak apa-apa. Tapi ini tidak demikian, ini perawat lebih besar daripada dokter spesialis kan tidak cocok," imbuhnya.

Tidak hanya itu, upaya dokter spesialis untuk meminta solusi kepada pihak rumah sakit dengan cara menyurati juga telah dilakukan berkali-kali tanpa hasil.

"Ibaratnya seperti balon, dipencet disini, disana yang melembung. Tidak pernah selesai. Kami hanya minta yang wajar, karena di rumah sakit manapun tidak ada perawat lebih besar daripada dokter spesialis kecuali di RSUDAM," bebernya.

Terkait adanya isu tentang insentif berkaitan dengan BPJS Kesehatan, Prambudi membantah hal itu. Menurutnya tuntutan tersebut sama sekali tidak ada kaitanya dengan BPJS Kesehatan.

"Kalau uang kami tidak dapat dari RSUDAM bisa cari diluar. Tapi ini masalahnya tidak adil. Jika saya menyebutkan nilai pastik tidak akan percaya. Kami tegaskan juga masalah ini tidak ada kaitanya dengan BPJS Kesehatan, kami sangat memaklumi kalau soal itu," ujar Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Bandar Lampung.

Tidak hanya kepada pimpinan, para dokter spesialis yang ada dilingkungan RSUDAM juga pernah mengadukan masalah tersebut kepada DPRD Provinsi. Salah satu tuntutannya adalah agar dokter spesialis diberikan jasa uang duduk. Namun hal itu ditolak. "Lama-lama orang tidak mau masuk RSUDAM. Dokter jadi enggan. Bahkan banyak yang tidak mau yang ada juga berhenti satu per satu. Sudah berkali-kali kami meminta solusi," beber Prambudi yang juga Presiden Lions Club Bandar Lampung itu.

Dia mengatakan aksi yang dilakukan oleh para dokter spesialis merupakan puncak kekecewaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sehingga perlu solusi dari pimpinan yang lebih tinggi, baik DPR maupun Gubernur Lampung. "Kami minta diperhatikan. Dan kami rasa pimpinan tidak bisa lagi mengatasi masalah ini. Perlu ada yang lebih tinggi karena pimpinan tidak bisa mengatasi lagi," ungkap dia.

Prambudi berharap agar insentif dokter spesialis dikembalikan sama seperti sebelum menggunakan sistem remunerasi, melainkan berdasarkan presentasi jasa medik sebesar 45% untuk jasa dokter. Ia berharap agar pembagian insentif kembali diberlakukan sama seperti sistem Pergub tahun 2015 yang berlalu.

"Sekarang potonganya banyak sekali sampai kita sendiri bingung untuk apa saja. Segala sistem semua pakai, terlalu banyak aturan yang dibuat jadi tidak jelas. Sekarang ada Pergub baru malah tidak karuan aturanya malah bikin pening," tandasnya.

Nur Jannah



Berita Terkait



Komentar