#penikaman#syekhalijaber

Inilah Motif Alfin Tikam Syekh Ali Jaber

( kata)
Inilah Motif Alfin Tikam Syekh Ali Jaber
Pelaku saat berada di Mapolresta Bandar Lampung. Istimewa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Motif pasti tersangka Alfin Andrian (24), warga Gang Tamin, Jalan Kemiri, Sukajawa, yang menikam Syekh Ali Jaber saat menghadiri wisuda santri sekaligus berdakwah, di Masjid Falahudin, Sukajawa, Minggu sore, 13 September 2020 hingga kini belum terkuak. Namun, berdasarkan hasil sejumlah penyelidikan, Alfin Andrian merasa terganggu dan gelisah dengan dakwah-dakwah yang kerap disampaikan Syekh Ali Jaber.

Menurut Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad, belum ditemukan adanya unsur pengaruh narkoba atau perintah orang lain.

"Motivasinya selama ini merasa terhantui dan terbenani dari tayangan Syekh Ali Jaber. Informasi gangguan jiwa itu kan terbentuk opini, ini yang kami tidak percaya begitu saja. Kami on the track melakukan penyelidikan dengan mendatangkan saksi ahli psikiater dari Dokkes Mabes dan RSJ Lampung untuk menjawab adanya informasi gangguan jiwa dari orang tua pelaku," ujar Pandra, Selasa, 15 September 2020.

Barang bukti yang diamankan aparat baju gamis putih dan kaus putih milik Syekh Ali Jaber, pisau gagang cokelat milik pelaku, serta t-shirt warna biru milik pelaku.

Pelaku dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP sub-Pasal 338 jo 351 KUHP sub-Pasal 351 Ayat (2) jo Pasal 53 KUHP dan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 Pasal 2 Ayat (1) terkait membawa senjata tajam.

"Kami jerat pasal berlapis agar tidak ada celah, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolresta Bandar Lampung. Sudah terpenuhi unsurnya ada niat dan membuat orang luka," ujarnya.

Informasi yang didapat Lampost.co, aparat juga sudah mendatangi salah satu tempat tinggal pelaku di Rawajitu, Mesuji. Ada informasi, tersangka diduga sempat mempelajari ilmu kebatinan sehingga menyebabkan kejiwaannya terganggu.

Informasi awal dugaan gangguan jiwa pelaku didapat dari pulbaket aparat (TNI/Polri) yang menggali keterangan orang tua pelaku, M. Rudi. Dia menyebutkan kalau anaknya mengalami gangguan jiwa sekitar empat tahun belakangan ini.

Informasi awal tersebut pun menyebar di aplikasi pesan (WhatsApp), pada Minggu malam, 13 September 2020, sebelum Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto, memberikan keterangan resmi ke awak media. Polda Lampung bersama Polresta  Bandar Lampung tak percaya begitu saja, terkait kejiwaan pelaku.

Beberapa tindakan langsung diambil aparat, sejak 13-14 September 2020. Pertama, pada 13 September 2020, mulai dari olah TKP yang dilakukan Inafis Polresta Bandar Lampung di lokasi kejadian, menginterogasi langsung pelaku, hingga langsung mendatangkan psikiater dari RSJ Lampung dr. Tendri Septa.

Kemudian, pada 14 September 2020 aparat mendatangkan psikater langsung dari Mabes Polri, didampingi Biddokes Polda Lampung untuk melakukan pemeriksaan kejiwaan serta menggali informasi dari pelaku. Selain itu, orang tua pelaku dan panitia penyelenggara acara ketika Syekh Ali Jaber ditikam juga diperiksa aparat.

Bahkan, Densus 88 Antiteror Mabes Polri juga dikabarkan menyambangi kediaman pelaku guna mencari informasi. Densus 88 Antiteror turun sejak penikaman tersebut terjadi hingga Selasa, 15 September 2020.

Berita terkait: Pelaku Penikaman Syekh Ali Jaber Ditetapkan Sebagai Tersangka

Densus dikabarkan menggali keterangan dan melalukan pemeriksan terhadap pelaku dan beberapa orang dari jamaah Masjid Falahudin.

Kedatangan Densus Antiteror dibenarkan Ketua RT 07 Sukajawa Jumawan. Dia mengaku tidak ada di rumah, tapi dihubungi akan kedatangan Densus Antiteror yang akan mendatangi kediaman pelaku. 

"Iya ada dari kemarin, cuma saya enggak tahu mereka ngapain dan apa saja yang dilakukan," ujar Jumawan, Selasa, 15 September 2020.

Salah satu kerabat tersangka yang enggan disebutkan namanya, tak menjawab ketika ditanya soal Densus yang melakukan pemeriksaan. Pria paruh baya itu hanya menegaskan kalau kerabatnya itu mengalami gangguan jiwa.

"Kalau di sini sudah dua minggu, memang kadang kumat, kalau lagi waras enggak," ujarnya.

Pandra juga tak menampik hal tersebut, namun informasi tersebut tak bisa dipaparkan secara rinci karena teknis penyelidikan. "Semua unsur dan upaya akan dilakukan dalam mengungkap perkara ini," katanya.

Sementara itu, sebelumnya beberapa pernyataan sudah dikeluarkan kepolisian. Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto pada Minggu, 13 September 2020, menyatakan pelaku sudah membawa pisau dari rumah, lalu berangkat ke acara tersebut. Kemudian informasi awal pelaku diduga gangguan jiwa berasal dari klaim sepihak orang tua, meski begitu aparat tak percaya begitu saja. Aparat juga mendalami, apakah Alfin terlibat dengan jaringan kelompok tertentu atau tidak.

Kemudian pada Senin, 14 September 2020, Kapolresta Kombes Yan Budi Jaya menyatakan pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 351 Ayat (2) KUHP dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun penjara. Keterangan yang didapat aparat, kalau Alfin berdalih mengalami gangguan jiwa sekitar emapat tahun belakangan.

Salah satunya penyebabnya karena sang ibu pelaku yang menjadi TKI di Hong Kong dan telah berpisah dengan ayahnya. Namun,  informasi tersebut tidak dipercaya begitu saja sehingga aparat langsung mendatangkan psikater dari Mabes Polri.

Dari pernyataan Kapolda dan Kapolresta sama sekali belum menyinggung soal motif pelaku menikam Syekh Ali Jaber, apakah ada kebencian, tidak suka dengan dakwah sang ulama, hingga spekulasi dugaan adanya perintah orang lain atau jaringan tertentu, hal ini belum terjawab.

Kemudian, disebutkan kalau pelaku baru sekitar seminggu yang lalu tinggal di wilayah Sukajawa (tempat kakeknya).

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar