#garuda#tiketpesawat#maskapaipenerbangan#ekbis

Ini Penyebab Tarif Tiket Garuda Melonjak

( kata)
Ini Penyebab Tarif Tiket Garuda Melonjak
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

JAKARTA (Lampost.co) -- PT Garuda Indonesia mengaku harus menetapkan harga tiket pesawat tinggi karena terdesak berbagai faktor.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengungkapkan, sejak pertama kali diterbitkan pada 2014, tarif batas atas (TBA) tiket pesawat tidak berubah signifikan.

Padahal, di sisi lain, komponen pembentuk harga seperti bahan bakar dan nilai tukar Rupiah terus melonjak. "Kondisi bahan bakar dan Rupiah dulu dan sekarang itu sangat berbeda. Dulu Rupiah masih Rp10.500 per dolar AS, sekarang sudah Rp14.400. Fuel dulu US$60 sekarang sekitar US$70. Maka itu kita perlu banyak inovasi untuk penghematan," jelas Askhara di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Dengan melonjaknya berbagai komponen pembentuk harga tersebut, manajemen Garuda pun harus menyesuaikan tarif yang sebelumnya dikisaran 70% dari TBA menjadi 95% dari TBA. "Jadi kita naik karena mengikuti harga fuel dan kurs yang melemah. Mau tidak mau harus dinaikkan," tuturnya.

Meski memasang tarif tinggi, Ari memastikan perseroan tidak melanggar peraturan terkait tarif tiket pesawat. Pasalnya, TBA yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 72 Tahun 2019 Tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, belum mencakup seluruh komponen pembentuk harga tiket seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR)ndan Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U).

MI



Berita Terkait



Komentar