#lakalantas#Jalinsum#Natar#beritalampung#pengamat

Ini Pendapat Pengamat Soal Jalinsum Natar yang Rawan Lakalantas

( kata)
Ini Pendapat Pengamat Soal Jalinsum Natar yang Rawan Lakalantas
Kondisi median jalan di Jalinsum Natar, yang ketinggiannya, hampir sama dengan badan jalan, Jumat (24/8/2018). (Foto:Lampost/Asrul)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pengamat transportasi Universitas Lampung Sasana Putra, mengatakan jalan lintas Sumatera (Jalinsum), khusunya di sekitar Kecamatan Natar, kondisinya berbahaya bagi pengguna sepeda motor.
Hal tersebut lantaran tingginya angka kecelakaan lalu lintas fatal di jalan nasional tersebut. Dalam kurun waktu 3 bulan saja, sudah ada 5 kejadian lakalantas dengan korban meninggal dunia berjumlah 8 orang.

"Saya sebut, jalinsum Natar berbahaya, di sana kan jalan By Pass, dan kecepatan kendaraan besar memang rata-rata minum 60 km per jam," ujarnya kepada Lampost.co, Jumat (24/8/2018).

Banyak faktor tentunya, mulai dari kondisi jalan yang buruk, walau kadang diperbaiki, minimnya penerangan, tinggi bahu jalan tidak rata dengan jalan, sehingga pengendara sepeda motor kadang tidak memilih jalur lambat, u-turn yang tidak sesuai, hingga perilaku pengendara yang masih buruk.
"Ya disitu, ada tanggung Jawab Dishub/Kemenhub, Dinas PU/BBPJN Kementrian PU PR, aparat kepolisian, dan lainnya," katanya.

Tentunya, selain harus ada penanganan serius dalam jangka panjang, harus ada upaya jangka pendek, untuk meminimalisir angka laka lantas. Yakni, memaksimalkan kembali gatur lalin, penjagaan di titik rawan, hingga harus tegas jika ada yang melanggar, seperti melawan arah, parkir di badan jalan, dan kebut-kebutan. "Anggota harus patroli rutin, di jam-jam rawan," katanya.

Selain itu, harus ada perbaikan bahu jalan agar kontur atau ketinggiannya sama, kemudian median jalan juga baiknya diperlebar dan tepat di U-turn diberi celukan agar mempermudah manuver Kendaraan, kemudian evaluasi u-turn yang ada, adalah yang sudah tepar, atau justru berbahaya, karena roda dua yang memutar tentunya, rawan bersinggungan dengan kendaraan besar yang melaju dengan kecepatan minimal 60 km per jam.

"Median jalan sepanjang 2 meter itu bisa mengurangi potensi laka, terus harus dievaluasi, karena kalau sembarang belok di U-turn mobil kan kebut. Dalam pembuatan ada standarnya, ada jarak minimal dari u-turn ke u-turn selanjutnya," katanya.

Sementara, Berdasarkan pantauan Lampost.co sejumlah jalan nasional di Natar, Lampung Selatan saat ini sedang dalam tahapan renovasi. Namun, justru membahayakan masyarakat sekitar. Terutama pengendara roda dua.

Perbaikan jalan sendiri dilakukan satu jalur, sementara jalur lainnya dibiarkan dengan kurun waktu cukup lama. Akibatnya dalam satu arah, kondisi jalan ketinggiannya tidak rata. 

Selanjutnya,  soal median jalan, peninggian jalan yang diprediksi mencapai hampir 20 cm itu membuat median jalan dari lokasi jalan didepan Lotte Mart hingga SPBU Pemanggilan Natar tidak terlihat perbedaannya, dengan ketinggian jalan.

Beberapa kendaraan, baik roda dua maupun roda empat akhirnya memanfaatkan untuk memutar kendaraan atau membelokan kendaraannya sembarangan. Sebab, tidak telalu terlihat perbedaan antara ketinggian jalan dan median jalan.Diberitakan sebelumnya, Direktorat Lalu Lintas Polda Lampung, segera melakukan evaluasi terhadap titik-titik rawan macet dan rawan laka lantas hingga menyebabkan meninggal dunia.
Dirlantas Polda Lampung Kombespol Kemas  Ahmad Yamin mengatakan, jalan lintas Sumatera (Jalinsum), di sekitar Kecamatan Natar, merupakan salah satu titik yang akan dievaluasi selain titik lainnya.

Asrul Septian Malik







Berita Terkait



Komentar