Covid-19paru

Ini Bedanya Covid-19 dan Penyakit Paru

( kata)
Ini Bedanya Covid-19 dan Penyakit Paru
MI


Sudah tiga hari terakhir, Agung Sunu [52 tahun] merasa susah untuk bernapas. Saat malam hari, batuk dan sesak di dadanya membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Namun, nyali Agung ciut ketika sang istri memintanya untuk memeriksakan diri ke dokter. Karena itu, rasa sesak di dadanya tersebut ditelan saja bulat-bulat, tanpa ingin tahu apa penyebabnya. "Cuma batuk dan sesak aja, tidak demam dan tidak sampai hilang penciuman. Tidak sampai keluar batuk darah. Namun, saya takut periksa ke dokter karena lagi covid-19 gini, kan. Saya sudah tua dan perokok. Rentan kena covid-19. Saya tahu itu,” ujar Agung kepada, Selasa 24 November 2020.

Agung pun memilih mengurangi jumlah rokok yang dihirupnya, jogging santai di pagi hari, meminum ramuan herbal jahe sereh hingga meminum jus jambu merah. “Alhamdulillah, kalau habis minum jus jambu, agak enakan dadanya. Tidak terlalu sesak,” imbuhnya.

Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta, Budhi Antariksa, mengatakan, walau sama-sama menyerang saluran pernapasan, ada gejala yang membedakan antara PPOK dan covid-19. “Tidak ada demam (pada PPOK),” katanya dalam webinar terkait peringatan Hari PPOK Sedunia 2020 yang digelar PT Kalbe Farma, belum lama ini.

Emfisema dan bronkitis kronis merupakan dua kondisi yang paling sering menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik. Ekspos terhadap asap rokok, gas iritan lainnya, atau partikel kecil ialah biang keladinya. Menurut Budhi, gejala PPOK hanya terbatas pada daerah pernapasan dan jika sesak napas lalu tidak terjadi perubahan hebat kemungkinan tidak disertai covid-19.Namun, untuk memastikan diagnosis, dokter akan menyarankan rontgen, pemeriksaan laboratorium, menggunakan alat spirometri untuk memeriksa dahak, kuman atau jamur hingga analisis gas darah kalau terjadi sesak hebat.

Pada mereka yang terkena PPOK, kata Budhi, gambaran pada hasil rontgen menunjukkan warna lebih hitam karena banyak udara terperangkap dalam paru (akibat merokok), diafragma mendatar dan bentuk jantung seakan memanjang dan menjadi langsing karena paru-nya mengembang, tetapi banyak udara yang terperangkap. “Karena ini zamannya covid-19, kita harus hati-hati, biasanya kita lakukan tes PCR, pemeriksaan laboratorium dan rontgen kembali. Anjurannya orang dengan PPOK di masa pandemi covid-19, tetap di rumah, lakukan 3 M karena riskan terkena covid-19,” bebernya.

Ia juga menyarankan pasien PPOK untuk tetap beraktivitas fisik serta pernapasan guna menguatkan otot-otot dada.  Pentingnya deteksi diniOrang dengan PPOK sangat berisiko terkena penyakit jantung dan kanker paru. Willem Laoh, 56, merupakan penyintas kanker paru. Pada 2018 lalu, Willem mengalami gejala batuk yang tak kunjung henti. “Saat periksa ada massa di paru saya. Dari biopsi ditemukan bahwa ini kanker. Sudah stadium 4,” kata Willem dalam webinar CISC, Senin (23/11) lalu. 

Willem memang merokok sejak muda, tinggal di lingkungan industri, dan banyaknya relasi yang merokok. Ketiga hal itulah yang dirasa menjadi pemicu kankernya. Sebanyak 80% - 90% kasus kematian kanker paru di dunia memang disebabkan oleh asap rokok. Di Indonesia, kanker paru menjadi pem-bunuh nomor satu karena telatnya diagnosis. "Sebagian besar penderita kanker ketemunya sudah stadium lanjut. Rata-rata, hampir 85% sudah sta-dium 3 dan 4,” ungkap Ketua Pokja Kanker Paru PDPI Elisna Syahruddin.

Ketua PDPI Agus Dwi Susanto pun mengimbau masyarakat jangan takut untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Pasalnya, saat ini tata laksana dari diagnosis sampai pengobatan pada pasien paru di Indonesia sudah memenuhi kaidah internasional. Ia juga mengimbau masyarakat masyarakat melakukan langkah pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat, antara lain dengan berhenti merokok dan menjauhi area berpolusi. Untuk diketahui, di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya untuk tubuh dimana 43 di antaranya bersifat karsinogenik.

Media Indonesia







Berita Terkait



Komentar