#beritalampung#beritabandarlampung#inflasi#ekbis

Inflasi Juli 0,73 Persen, Tertinggi dalam Tiga Tahun Terakhir

( kata)
Inflasi Juli 0,73 Persen, Tertinggi dalam Tiga Tahun Terakhir
Kelompok bahan makanan sebagai penyumbang terbesar inflasi Lampung Juli 2022. Foto: Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co): Lampung mengalami Inflasi sebesar 0,73 persen per Juli 2022. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,66 persen.

Kepala BPS Lampung Endang Retno Sri Subiyandani mengatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung mengalami kenaikan indeks dari 112,64 pada Juni 2022, menjadi 113,46 pada Juli 2022. Dengan demikian terjadi inflasi. 

"Berdasarkan penghitungan inflasi tahun kalender, Juli 2022 mengalami inflasi sebesar 4,39 persen. Selanjutnya inflasi tahun ke tahun Juli 2022 terhadap Juli 2021 adalah sebesar 5,61 persen," ujarnya, Senin, 1 Agustus 2022.

Pada Juli 2022 tingkat inflasi bulan ke bulan mengalami inflasi tertinggi selama tiga tahun terakhir yaitu sebesar 0,73 persen, sedangkan bulan Juli 2021 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, sementara itu pada bulan Juli 2020 terjadi inflasi sebesar 0,31 persen.

Baca juga: Dua Bocah di Candipuro Lamsel Dipaksa Makan Daun Sawit karena Merusak Tanaman 

Tingkat inflasi tahun kalender Juli 2022 mengalami inflasi tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir yaitu sebesar 4,39 persen, sedangkan bulan Juli 2021 mengalami inflasi sebesar 1,02 persen, lebih tinggi bila dibandingkan inflasi tahun kalender Juli 2020 sebesar 0,85 persen.

Tingkat inflasi tahun ke tahun Juli 2022 terhadap Juli 2021 sebesar 5,61 persen (tertinggi dalam tiga tahun terakhir), sedangkan inflasi tahun ke tahun Juli 2021 terhadap Juli 2020 sebesar 2,17 persen dan inflasi tahun ke tahun Juli 2020 terhadap Juli 2019 sebesar 1,33 persen.

Dia menerangkan dari sebelas kelompok pengeluaran, delapan kelompok pengeluaran mengalami inflasi, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,66 persen. Kemudian kelompok transportasi 1,10 persen, kelompok pendidikan 0,71 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,45 persen.

Selanjutnya kelompok perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga 0,22 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,12 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,04 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,04 persen.

Sebaliknya, tiga kelompok yang mengalami deflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,39 persen, kelompok kesehatan 0,39 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,09 persen.

Dari dua kota pemantauan di Lampung pada Juli 2022, Kota Bandar Lampung mengalami inflasi sebesar 0,75 persen sedangkan Kota Metro inflasi sebesar 0,58 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi tertinggi, yaitu sebesar 0,52 persen. Adapun sub kelompok yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Juli 2022 adalah sub kelompok makanan yaitu sebesar 0,41 persen.

Ekspor Lampung Meningkat

Sementara itu, nilai ekspor Provinsi Lampung pada Juni 2022 mencapai 526,89 juta dolar AS, mengalami peningkatan sebesar 229,13 juta dolar AS atau naik 76,95 persen dibandingkan Mei 2022 yang mencapai 297,76 juta dolar AS.

Nilai impor Provinsi Lampung pada Juni 2022 mencapai 112,10 juta dolar AS, mengalami penurunan sebesar 106,77 juta dolar AS atau turun 48,78 persen dibanding Mei 2022 yang tercatat 218,87 juta dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat, sepuluh golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada Juni 2022 adalah lemak dan minyak hewan/nabati,  batu bara, ampas/sisa industri makanan, kopi, teh, rempah-rempah, olahan dari buah-buahan/sayuran, bubur kayu/pulp, berbagai produk kimia, ikan dan udang, daging dan ikan olahan, serta karet dan barang dari karet.

"Negara utama tujuan ekspor Provinsi Lampung pada Juni 2022 adalah India, Belanda, Italia, Tiongkok, Amerika Serikat, Pakistan, Korea Selatan, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan Benin," ujar Endang.

Ekspor menurut sektor selama sebulan terakhir terjadi peningkatan pada semua sektor. Sektor industri pengolahan naik sebesar 122,36 persen, pertambangan dan lainya naik sebesar 4,18 persen, serta sektor pertanian naik sebesar 8,67 persen.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar