#plastik#industri

Industri Tolak Penerapan Cukai Kantong Plastik

( kata)
Industri Tolak Penerapan Cukai Kantong Plastik
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

Jakarta (Lampost.co) -- Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menolak langkah pemerintah dalam menerapkan kebijakan tarif cukai kantong plastik. Ia mempertanyakan rencana kebijakan tersebut.
 
"Apa sih urgensinya pemerintah menerapkan cukai plastik? Kalau dari sisi pendapatan negara pemerintah menginginkan sumber pendanaan baru, maka bisa mencari dari sektor lain. Misalnya mengenai tarif besar pada bahan baku impor plastik dan bahan baku plastik dan kalau untuk lingkungan ya harus dengan pengelolaan yang baik," ketus Fajar dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.
 
Menurutnya perluasan barang kena cukai menyasar pada kantong plastik salah sasaran. Padahal bila menerapkan cukai pada bahan baku plastik dan bahan jadi plastik yang notabene impor, justru pendapatan negara akan lebih besar.


"Barang jadi plastik itu impornya satu juta ton, dan itu di beberapa pelabuhan saja, gampang dicegatnya. Sedangkan bahan baku plastik hampir tiga juta ton. Jadi itu aja dari sisi penerimaan negara," ungkap dia.
 
Penarifan cukai plastik dinilai akan menyulitkan banyak Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sebab UKM tersebut belum banyak dibina. "Industri daur ulang Indonesia sudah bagus sebenarnya tinggal didorong lagi," jelas Fajar.
 
Di sisi lain meskipun banyak kampanye pengurangan penggunaan sampah plastik, namun keberadaannya masih tetap diperlukan. "Sekarang juga kita sudah berhasil meyakinkan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Dulunya benci plastik, sekarang mereka bijak menggunakan plastik," tuturnya.
 
Hal senada diungkap Wakil Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesi (Adupi) Justin Wiganda yang menganggap akan ada efek domino jika cukai plastik diberlakukan.
 
Bagi industri, kata Justin, akan berimbas pada turunnya permintaan dan akan berpengaruh business competition pada industri plastik yang padat karya. Kemudian dampaknya juga akan berasa terhadap industri ritel tradisional.
 
"Efek terparah dari penerapan cukai plastik terhadap masyarakat karena kantong plastik itu dijualnya business to business dan sangat jarang sekali masyarakat awam sengaja membeli kantong plastik. Ini jelas memberatkan masyarakat," keluh Justin.
 
Menurut dia, penerapan cukai kantong plastik akan mengerek harga bahan makanan dan akan menyebabkan tambahan pengeluaran bagi masyarakat. Hal ini berimbas pada kemampuan atau daya beli kelompok masyarakat miskin.
 
"Pengendalian sampah plastik dinilai tidak perlu dengan cukai. Pemilahan sampah plastik dari sumbernya bisa jadi pilihan yang tepat karena sampah plastik memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan benar," urainya.
 
Business Development Director Indonesia Plastic Recycles (IPR) Ahmad Nuzuludin menyatakan pemerintah tidak perlu menerapkan cukai untuk pengendalian sampah plastik. "Persoalan sampah plastik yang terjadi saat ini karena belum terbangunnya perilaku pemilahan sampah organik dan non organik di masyarakat," papar Ahmad.
 
Padahal penanganan sampah plastik sebenarnya dapat diatasi melalui pemaksimalan daur ulang dengan melakukan pemilahan terlebih dulu. "Karena itu perilaku collecting system harus dibangun di masyarakat lewat adanya bank-bank sampah di tingkat RW atau kelurahan," jelas Ahmad.
 
Menurut dia, ketika sistem pemilihan sampah plastik di daerah sudah terbangun, maka sampah plastik dapat daur ulang dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat itu sendiri. Tercatat, jumlah bank sampah di seluruh Indonesia saat ini masih jauh dari kata cukup karena baru ada 2.500 unit bank sampah. Kondisi ini membuat sampah plastik di berbagai daerah menjadi tidak berguna.
 
"Kalau ada 70 ribu kelurahan/desa di Indonesia, maka jumlah bank sampah seharusnya ada 70 ribu. Sehingga collecting system sampah, khususnya sampah plastik berjalan dengan baik, daur ulang meningkat, dan tidak ada lagi sampah kemasan plastik berserakan di sungai atau laut," pungkas dia.
 

Medcom



Berita Terkait



Komentar