#nuansa#setitikair#beritalampung

Indahnya Berbagi

( kata)
Indahnya Berbagi
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

PAGI hari menjelang siang, baru-baru ini ada suatu peristiwa yang cukup mengesankan bagi saya. Kala itu saya bersama rekan sedang duduk menikmati secangkir kopi hangat di Kantin Pertiwi, Pahoman.

Seperti biasa, tempat itu menjadi langganan untuk santap siang atau sekadar kongko bersama teman-teman. Cukup pesan kopi atau gorengan, kami sudah bisa nongkrong asyik mengistirahatkan badan sejenak di kala lelah.

Tak lama kemudian datang tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan, menawarkan jasa semir sepatu. Ketiganya masih sangat kecil, kalau boleh memperkirakan usia mereka baru 7—8 tahun atau kelas I dan II SD.

Saya bersama rekan pun mempersilakan mereka membersihkan sepatu kami. Ketiganya saling membantu membersihkan dua pasang sepatu. Mereka berbagi tugas dan peran. Modal mereka dalam bekerja hanya satu semir, sikat, lap kering, dan semangat.

Ada yang menyemir sepatu, ada juga yang mengelap sepatu. Ketiganya kompak berbagi peran. Berselang 5 menit kemudian, ketiganya merampungkan pekerjaannya. Mereka tak mematok harga dan hanya meminta seadanya. Kami pun memberikan uang untuk mereka bagi bertiga sehingga adil bagi kami dan mereka.

Dari peristiwa itu, terbesit dalam benak kami betapa semangatnya mereka mencari uang untuk membantu orang tuanya. Uang yang didapat mungkin saja mereka gunakan untuk membantu ibunya membeli kebutuhan sehari-hari. Bisa juga mereka manfaatkan untuk sekedar jajan atau dapat pula digunakan untuk menambung membayar uang sekolah.

Betapa bermanfaatnya tetesan keringat yang mereka kucurkan. Bagi saya mereka lebih mulia dari sekedar mereka yang meminta-minta. Mereka menawarkan jasa bukan mengemis.

Dari situ saya berpikir betapa indahnya berbagi rezeki, menolong sesama. Kita diperintahkan untuk peduli terhadap sesama. Sebab, dalam nilai-nilai kemanusiaan, kebahagiaan yang didapatkan manusia tidak hanya dari sesuatu yang bersifat materi, tetapi ada yang lebih membahagiakan dari itu, yaitu kepuasan hati.

Ada kepuasan tersendiri dalam diri kita saat kita dapat berbagi kepada orang lain dengan memberi dari apapun yang kita miliki. Pada titik akhirnya kita harus menyadari dengan hati nurani yang terdalam bahwa semua yang kita miliki dan kita berikan itu adalah titipan Allah semata, bukan sebenarnya milik kita.

Maka, hati kita pun tertunduk kepada Allah dengan segala kerendahan. Kemahamuliaan Allah-lah yang membuat kita mendapatkan balasan yang terbaik di sisi-Nya atas segala amal shalih kita. Di situlah letak indahnya keikhlasan.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan, tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin. Maka, celakalah untuk orang-orang yang salat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. Orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang yang berguna.” (QS Al-Ma’un Ayat 1—7).

 

Eka Setiawan/Wartawan Lampung Post



Berita Terkait



Komentar