#imlek#hujan

Imlek dan Hujan Miliki Filosofi Sendiri

( kata)
Imlek dan Hujan Miliki Filosofi Sendiri
Ilustrasi, makana imlek selalu turun hujan. (Foto:Dok. MI)


Jakarta (Lampost.co)--Hujan sangat identik dengan Tahun Baru Imlek. Jika turun hujan, cuan akan mengalir seperti jatuhnya ke bumi.
Bagi kepercayaan Tionghoa, hujan yang turun saat peringatan tersebut adalah pertanda baik dan keberuntungan. Namun, ada alasan ilmiah dibalik hujan saat Imlek. Hal ini berkaitan dengan waktu Imlek yang bertepatan dengan musim hujan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan akhir Januari dan awal Februari memang merupakan puncak musim hujan dengan curah hujan yang tinggi.

Sementara, jatuhnya perayaan Imlek yang biasanya di akhir Januari atau awal Februari juga disebabkan adanya perhitungan hari yang merupakan gabungan antara fase bulan mengelilingi bumi dengan bumi mengelilingi matahari atau lunisolar. 

Menurut Ahli Feng Shui, hujan menandakan Dewi Kwan Im yang sedang menyiram bunga Mei Hwa sebagai arti turunnya berkah dari langit.

Bunga Mei Hwa dipercaya orang Tionghoa sebagai bunga yang ditanam Dewi Kwan Im menjelang hari raya Imlek.Masyarakat Tionghoa yang dulunya berprofesi sebagai petani selalu menunggu turunnya hujan sebagai bentuk keberkahan. 

Selain itu, ada serangkaian ritual yang dilakukan untuk menentukan apakah ketika Imlek akan turun hujan atau tidak. Ritual tersebut dilakukan dengan mengonsumsi makanan semacam onde-onde.

Ketika memakan makanan tersebut dan tidak turun hujan, maka mereka meyakini bahwa saat Imlek tidak akan hujan.Imlek tahun ini jatuh pada Minggu, 22 Januari 2023. Berdasarkan astrologi Tiongkok, 2023 merupakan tahun kelinci air. 

Sri Agustina








Berita Terkait



Komentar