#Korupsi#KPK#ImamNahrawi

Imam Nahrawi Didakwa Terima Gratifikasi Rp8,6 Miliar

( kata)
Imam Nahrawi Didakwa Terima Gratifikasi Rp8,6 Miliar
Eks Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi usai didakwa terima suap dan gratifikasi - Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Jakarta (Lampost.co) -- Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi didakwa menerima gratifikasi Rp8,5 miliar. Gratifikasi diterima Imam melalui asisten pribadinya, Miftahul Ulum.

"Terdakwa selaku Menpora RI menerima gratifikasi yang seluruhnya sejumlah Rp8,6 miliar melalui Miftahul Ulum," kata jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ronald Ferdinand Worotikan dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat, 14 Februari 2020.

Jaksa menyebut politikus PKB itu menerima gratifkasi dari sejumlah pihak. Mulai dari Sekretaris Jenderal KONI Pusat Ending Fuad Hamidy hingga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada program Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Edward Taufan Pandjaitan.

Imam tidak melaporkan penerimaan gratifikasi tersebut kepada KPK. Sikap Imam sebagai pejabat negara dinilai telah melanggar hukum.

Imam didakwa melanggar Pasal 12B ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juntco Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Imam sebelumnya telah didakwa menerima suap belasan miliar. Suap diterima dari mantan Sekretaris Jenderal Komite Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan mantan Bendahara KONI Johnny E Awuy.

Pemberian uang itu sebagai komitmen fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora pada anggaran 2018. Salah satunya untuk kegiatan pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi pada Multievent Asia Games 2018 dan Asian Paragames 2018.

Termasuk terkait proposal dukungan KONI dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi 2018. Suap dan gratifikasi itu diterima Imam dalam kapasitasnya sebagai ketua Dewan Pengarah Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dan Menpora.

Penetapan tersangka Imam hasil pengembangan dari perkara lima tersangka. Mereka ialah Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy, Deputi IV Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Pumamo, dan Staf Kemenpora Eko Tryanto. Kelimanya telah divonis bersalah di pengadilan tingkat pertama.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar