#IKM#korona

IKM Makanan Terkendala Bahan Baku dan Lonjakan Harga

( kata)
IKM Makanan Terkendala Bahan Baku dan Lonjakan Harga
dok Lampost.co

Jakarta (lampost.co) -- Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor makanan membutuhkan dukungan pasokan bahan baku untuk dapat terus beroperasi. Pandemi virus korona (covid-19) di Indonesia berdampak pada kenaikan harga sehingga menyulitkan pelaku usaha melakukan produksi.
 
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih membeberkan beberapa harga bahan baku yang mengalami lonjakan. Salah satunya kedelai, dari Rp6.700 menjadi Rp8.500. Kemudian gula pasir, harganya naik dari Rp12.500 per kilogram (kg) menjadi Rp18 ribu per kg hingga Rp21 ribu per kg di Kota Palu.
 
"Ada pembatasan pembelian gula pasir maksimal tiga kg. Jika ingin membeli kemasan bulk besar, harus di distributor dan dalam jumlah yang besar sekali," ujar Gati dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 12 April 2020.

Meroketnya harga juga terjadi pada bahan baku gula rafinasi, dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu. Kemudian harga buah-buahan yang meningkat sekitar 20 persen, dan bahan baku susu segar naik dari Rp6.500 per liter menjadi Rp8.500 per liter.
 
Selain itu, harga jahe merah turut naik hingga melebihi 100 persen, yakni dari Rp35 ribu per kg menjadi Rp70 ribu per kg, bahkan mencapai Rp130 ribu per kg di Kota Palu. Untuk harga bawang putih juga tak luput dari kenaikan harga, yakni dari Rp35 ribu per kg menjadi Rp55 ribu per kg.
 
Menurut Gati, IKM makanan juga mengalami penurunan omzet hingga 50 persen, bahkan terdapat IKM yang penjualannya menurun hingga 90 persen. Pada akhirnya, mereka menjual secara obral stok yang ada agar tidak menumpuk di gudang dan supaya mendapat pemasukan.
 
"Untuk pasar ekspor juga turut mengalami hambatan, karena diberlakukannya karantina wilayah. Misalnya ekspor bawang goreng Monita dari Kabupaten Kuningan ke Arab Saudi," tukasnya.
 
Untuk itu, IKM masih terus menjalankan penjualan secara daring agar tetap mendapatkan pemasukan bagi perusahaan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, IKM makanan mengharapkan bantuan modal usaha, penundaan pembayaran kredit perbankan, stabilisasi harga bahan baku, serta intervensi pemerintah pusat untuk menjamin ketersediaan bahan baku hingga ke daerah.
 
Selain itu, diharapkan bantuan dari pemerintah baik hibah maupun pinjaman, penundaan pembayaran iuran PDAM dan PLN, keringanan pembayaran BPJS karena karyawan dirumahkan, penundaan pembayaran pajak, hingga subsidi biaya pengiriman untuk penjualan online, terutama untuk Indonesia Bagian Timur yang mengalami kendala pada mahalnya biaya kirim.
 
"Saat ini IKM melakukan penggiliran jam kerja yang berarti akan terjadi pengurangan pendapatan pegawai karena upah dibayar secara harian. Kondisi ini berlaku di sebagian besar IKM makanan," pungkas Gati.

Medcom



Berita Terkait



Komentar