#biogas#ekbis#beritapringsewu

Ikhtiar Desa Memutus Kecanduan Energi Fosil

( kata)
Ikhtiar Desa Memutus Kecanduan Energi Fosil
API BIOGAS. Nurul memasak dengan kompor bertenaga biogas di rumahnya di Desa Kediri, Kecamatan Gading rejo, Pringsewu, baru-baru ini. (LAMPUNG POST/DELIMA NATALIA NAPITUPULU)

Pringsewu (Lampost.co): Aroma daging matang bersalut rempah dan santan memenuhi dapur saat Nurul membuka penutup kuali. Ia mengaduk perlahan rendang yang telah dimasak sejak dua jam lalu. Api kompor dimatikan. Enam potong daging kehitaman disajikan di pinggan. 

Kini, memasak menu yang butuh banyak bahan bakar bukan lagi menjadi momok. Nurul tidak perlu repot mengirit gas elpiji untuk menekan uang belanja. Bahkan, sudah beberapa tahun ini, ibu muda tersebut punya uang tabungan tambahan Rp50ribu tiap bulan. Uang itu tidak perlu lagi “dibakar” menjadi dua tabung gas elpiji. Apalagi, “gas melon” itu juga kerap langka pada momen tertentu di kampungnya, Desa Kediri, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu. 

"Kami masak enggak pakai elpiji lagi. Kami pakai biogas dari kotoran sapi," ujarnya kepada Lampung Post, medio Agustus 2020. Setiap sore, suaminya, Nurwendik, mengumpulkan kotoran dari tujuh ekor sapinya. Kemudian dimasukkan ke dalam bak pengaduk yang terhubung ke tangki digester. 

Kubah tersebut akan mengalirkan gas ke kompor dan instalasi listrik di rumahnya. "Saat listrik padam, rumah kami tetap terang karena memakai daya biogas," kata dia.

Sisa dari proses tersebut dikeluarkan ke lahan khusus untuk diolah menjadi pupuk. "Di belakang rumah saya ada instalasinya. Dari tujuh sapi, kotorannya bisa menghasilkan 12 kubik biogas," ujarnya. Pasokan tersebut mencukupi, bahkan surplus, untuk kebutuhan rumah tangganya serta orang tua yang tinggal berdampingan. 

Menurut Nurul, api biogas berwarna lebih biru dengan panas merata. Gas yang dihasilkan tidak berbau. "Selain masak, biogas ini juga sering saya gunakan untuk lampu. Alhamdulillah, biogas turut membantu ekonomi keluarga saya, terutama di masa pandemi ini," ujarnya.

Sementara, Lurah Kediri Subandi mengatakan warganya mayoritas bekerja sebagai pengrajin anyaman bambu. "Di sini banyak yang punya sapi. Warga yang sudah memanfaatkan kotoran sapinya untuk biogas sekitar tiga puluhan keluarga," kata dia.

Di Desa Kediri terdapat 20 digester yang dibangun Pemerintah Pusat melalui Program Pengembangan Desa Mitra oleh akademisi Unila, serta bantuan pemerintah daerah. Keberadaan instalasi biogas bukan hanya membantu warga berdaulat energi, tetapi juga membuat lingkungan menjadi lebih sehat. "Sekarang daerah ini bersih, enggak ada lagi kotoran sapi yang terserak. Udara yang dihirup juga bebas dari bau tak sedap kotoran sapi," ujar Subandi. 

Biogas kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Para pengguna kini jemawa karena mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada gas elpiji.

Subandi mengklaim potensi biogas di Kediri melimpah. Sejumlah warga juga menggunakannya untuk membuka usaha kuliner. "Ada yang jualan makanan, masak dengan biogas. Untungnya jadi lebih besar karena enggak perlu biaya bahan bakar," kata Subandi. 

Ia optimistis keberadaan instalasi biogas di desanya menjadi stimulan peningkatan taraf ekonomi. "Dengan konsistensi, kami bisa menjadi model desa yang mandiri energi," ujarnya.

Potensi dan Regulasi

Lampung potensial dalam sektor pertanian dan peternakan. Seluruh wilayah di Bumi Ruwa Jurai cocok menjadi lokasi peternakan, baik unggas, kambing, kerbau, maupun sapi. 

Edy Pujianto selaku Kasubbag Perencanaan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung secara khusus menyebutkan populasi ternak sapi di Lampung pada 2018 sebanyak 827.217 ekor. Jumlah tersebut meningkat 23.338 pada 2019 dengan total 850.555 ekor. Pada tahun ini, populasi diproyeksikan melonjak hingga mencapai 864.213 ekor.

Edy menjelaskan populasi sapi di Lampung terus naik. Ketersediaan lahan dan tumbuhan untuk pakan ternak, menjadi kunci. "Terbanyak di Lampung Tengah, disusul Lampung Timur dan Lampung Selatan," ujarnya, baru-baru ini.  

Pendamping Program Pengembangan Desa Mitra dari Fakultas Teknik Unila Sri Ismiyati mengatakan pengembangan energi baru terbarukan biogas amat tepat bagi Lampung. Populasi sapi yang meningkat merupakan potensi besar yang bisa digarap untuk memutus ketergantungan energi fosil.

"Pengolahan biogas amat mudah. Pengembangannya harus didukung semua pihak menuju masyarakat mandiri energi," kata dia. Sri juga mengkritik regulasi tentang gelontoran subsidi pemerintah untuk gas melon. Subsidi tersebut dinilai membuai hingga masyarakat jadi malas mencoba alternatif energi baru terbarukan.

Saatnya regulasi pemerintah pro pada energi baru terbarukan. Biogas amat sesuai dengan karakteristik masyarakat. "Pemanfaatan limbah ternak sebagai sumber energi merupakan keniscayaan," ujar Sri.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar