#nuansa#covid-19#

Ibadah di Rumah

( kata)
Ibadah di Rumah
Ilustrasi. Media Indonesia.

Wandi Barboy 
Wartawan Lampung Post

PADA koran Lampung Post, Kamis (16/4), khususnya pada berita kaki halaman satu, tertera berita berjudul umat lintas agama doa pandemi mereda. Satu bulan sejak problem virus Covid-19 mendera Sai Bumi Ruwa Jurai, persoalan bukannya menjadi berkurang, malah kian berdampak buruk. 

Diterpa permasalahan semacam ini, pada kolom Setitik Air ini, saya yang menganut agama Kristen Protestan lantas teringat dengan ibadah di rumah yang selama ini dijalankan umat Kristiani tiap minggunya. 

Ya, ibadah di rumah bisa dimasukkan kategori berdampak sosial. Sebab, ibadah itu menjalankan laku spiritual yang berdampak ke masyarakatnya sesuai agama dan kepercayaan yang dianut. 

Kementerian Agama telah mengimbau agar umat beragama melakukan ibadah di rumah. Ada tiga dasar pikir yang menyebabkan ibadah di rumah ini penting untuk dilakukan yang dikutip dari berbagai sumber.  

Pertama, mengurangi risiko. Kegiatan ibadah berjemaah di luar rumah berisiko menularkan virus dengan cepat.  

Kedua, ibadah lebih tenang. Ibadah bersama keluarga lebih tenang, tidak ada ketakutan mengintai selama menjalankan ibadah.

Ketiga, wujud kasih sayang. Ibadah di rumah berarti menunjukkan kasih sayang kepada sesama jemaah atau tokoh agama yang kita hormati agar tidak terinfeksi Covid-19.

Paskah telah berlalu. Perlahan tapi pasti, bulan Ramadan segera tiba. Maka, doa perlu dilipatgandakan agar virus ini hengkang dari Bumi Pertiwi.

Ada satu ungkapan dari pendeta sekaligus aktivis perdamaian khususnya untuk Indonesia Timur, Jacky Manuputty, yang bisa dimaknai umat Kristiani sebagai renungan Paskah tahun ini. 

Demikian ia mengguratkan permenungannya. Kalau untuk membela kehidupan, gereja-gereja harus menderita, inilah saatnya menjalani jalan penderitaan itu dengan iman yang terarah pada penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. 

Mengingat barisan cahaya dari timur ini, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut nama dr Johanes Leimena, pendiri bangsa yang juga mantan Menteri Kesehatan dari Indonesia Timur. 

Sikap Leimena yang rendah hati dan bijaksana dalam bernegara adalah salah satu tonggak penting bagaimana umat Kristen harus menjadi "saksi" dalam mengimplementasikan buah roh di tengah masyarakatnya. Menjadi garam dan terang bagi sesamanya.   

Memungkasi catatan ini, saya ingin mengutip ayat favorit Leimena dalam Injil yaitu Yohanes 1: 1—18. Dari perikop favorit dokter Leimena itu, saya memilih perikop Yohanes 1:4—5 Ayat 4, “Dalam Dia, ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia”. Ayat 5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” 

Maka, jangan mau ditaklukkan oleh Covid-19. Kita mesti percaya korona bisa sirna dari Indonesia. Semoga...

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar