#Infrastruktur#SaranaPublik

Warga Bertaruh Nyawa Melewati Jembatan Darurat

( kata)
<i>Warga Bertaruh Nyawa Melewati Jembatan Darurat</i>
Seorang petanidi Dusun Sukarame, Desa Pulangpanggung, Kecamatan Abungtinggi, Kabupaten Lampung Utara nekat melintasi jembatan rusak, Sabtu, 29 Agustus 2020. (Salda Andala/Lampost.co)

Lampung Utara (Lampost.co) -- Lelaki berkaus hijau dengan topi caping itu melangkah perlahan menapaki jembatan darurat yang tak lagi berbentuk sempurna.

Jembatan darurat itu hanya menyisakan rangka kawat yang saling terhubung. Sebagian besar bilah papan yang menjadi dasar jembatan sebagian besar sudah lepas dari tempatnya.

Setelah berhasil melintasi jembatan, peluh keringat pun bercucuran membasahi badan. Petani bernama Ahmad Nasir (56), itu pun bergegas melanjutkan perjalanan.

Ahmad Nasir mengaku ia terpaksa dekat melintasi jembatan darurat itu. Menurutnya jembatan itu merupakan akses utama menuju perkebunan warga.

"Ya lewat jembatan gantung ini dikarenakan tidak perlu jauh-jauh memutar. Tinggal jalan lurus namun cukup berbahaya memang," ujarnya, Sabtu, 29 Agustus 2020.

Berdasarkan pantauan Lampost.co pukul 11:00 Wib, tidak banyak orang yang mencoba melintasi jembatan gantung di Dusun Sukarame, Desa Pulangpanggung, Kecamatan Abungtinggi, Kabupaten Lampung Utara itu.

Ia menuturkan jembatan tersebut berdiri sejak 1970 hasil dari swadaya masyarakat menggalang dana. Namun, sampai saat ini, sarana fital tersebut belum pernah tersentuh sedikitpun oleh bantuan pemerintah.

"Pertama jembatan bantuan pemerintah di bawahnya berajak 100 meter dari jembatan ini namun hanya beberapa tahun jembatan rusak akibat banjir besar kala itu," ungkapnya sambil menunjuk arah jembatan lama yang sudah tidak terpakai.

Ia mengharapkan agar pemerintah setempat memperbaiki jembatan tersebut menjadi permanen. Dengan begitu tidak ada lagi korban lantaran nekat melintasi jembatan. Selain itu, akses masyarakat lebih mudah, menuju perkebunan sebab jembatan tersebut penghubung utama warga mencari mata pencarian mereka.

Ahmad Nasir berangkat berkebun bersama istri dan warga lainnya. Munyati (56) istrinya, bersama Hera Wati (54), dan Anita (36), warga lainnya menuju lahan perkebunan dengan menyeberang melalui sungai cukup deras. Mereka tentu tak berani melewati jembatan darurat tersebut.

"Terpaksa harus menyebrangi sungai karena kami tidak berani melewati jembatan yang rusak tersebut," ujar Munyati, ibu empat orang anak tersebut.

Pantauan Lampost.co, jembatan gantung tersebut hanya memakai tali seling yang mengikat di pohon tua yang beralaskan papan tipis agar warga bisa menyebrang.

Pascaputusnya jembatan gantung itu rusak parah, petani setempat kerepotan untuk lalu lalang menuju kebun atau membawa hasil bercocok tanam ke kampung. Jembatan itu menjadi akses utama warga setempat menuju perkebunan.

Saat ini sebagian besar warga setempat harus menyebrangi sungai yang cukup deras. Mengantisipasi hal ini warga pun berusaha bergotong royong memperbaiki jembatan.

Kepala Dusun 1 Sukarame, Mulyan (51), mengatakan saat ini sudah terkumpul dana hasil swadaya masyarakat sebesar Rp3.500.000. Uang tersebut sangat minim untuk memperbaiki jembatan gantung yang putus.

"Ia uang yang terkumpul sangat minim untuk memperbaiki jembatan yang kerusakannya cukup parah, namun saat ini yang terpenting warga bisa melewati untuk sementara waktu," ungkapnya.

 (Salda AndalaCK2)

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar