#tanahliat#feature

Tanah Liat Penggerak Roda Ekonomi Bumdes Barokah

( kata)
<i>Tanah Liat Penggerak Roda Ekonomi Bumdes Barokah</i>
Caption; Kepala Desa (Kades) Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Liono, di lokasi pembuatan batu bata yang di kelola Bumdes Barokah, di desa setempat, Senin (30-9-2019). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO

Kotabumi (Lampost.co): Mesin pengaduk tanah liat itu melumatkan gumpalan tanah merah menjadi butiran halus sebelum masuk pada proses cetak batu bata dan dari tanah itulah, geliat ekonomi badan usaha milik desa (Bumdes) Barokah,  Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, bergerak. 

Kepala Desa (Kades) Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Liono, di lokasi pembuatan batu bata di desa setempat, Senin (30-9-2019) mengatakan di areal lahan seluas 2.000 meter persegi ini, usaha membuat batu bata  yang di rintis Bumdes Barokah, Desa Ratu Abung, Abung Selatan, pada 2018 lalu mulai beroperasi.

Dengan modal penyertaan Rp 100 juta dari dana desa (DD) yang terbagi dua tahap, yakni; DD  tahun anggaran (TA) 2017 sebesar Rp 20 juta dan DD TA 2018 sebesar Rp 80 juta, saat ini telah menyerap 10 orang tenaga kerja dari desa setempat yang diberdayakan khusus untuk membuat batu bata. 

"Dari Rp 100 juta modal penyertaan DD TA 2017 dan DD TA 2018, modal terbesar Bumdes Barokah, di unit usaha pembuatan batu bata ini adalah untuk pembelian mesin cetak rakitan batu bata sebesar Rp 22 juta dan sisanya, masih tersimpan di rekening Bumdes. Dari usaha tersebut, telah memberdayakan 10 orang tenaga kerja dari desa setempat," ujarnya. 

Untuk proses pembuatan, di mulai dari pengadonan tanah liat, dengan mesin cetak dan langsung di cetak. Setelah itu, proses berlanjut ke pengeringan dengan penjemuran di bawah sinar matahari sebelum  ke proses akhir, yakni; pembakaran batu-bata. Bila di tilik, proses pembuatan  terlihat sederhana. Tapi, dalam  pengerjaan mulai dari awal sampai batu bata siap jual membutuhkan rentang  waktu sekitar 20 hari. 

"Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batu bata sekitar 20 hari.  Karena rentan waktu yang panjang itulah, pembuatan batu bata mesti dilakukan setiap hari secara berkesinambungan" kata dia. 

Disinggung harga jual, dia menjawab,  setiap satu biji batu bata yang di produksi berukuran tinggi  dan tebal 9 cm serta panjangnya 18 cm, dihargai Rp450/biji. Sedangkan produktifitas setiap harinya, rata-rata mampu memproduksi sekitar 2000 ribu biji batu bata siap jual dan batu bata yang di produksi  terjual habis dengan pendapatan kotor Rp900 ribu, belum di potong tenaga kerja dan transport dalam sehari. 

"Penjualan batu bata produksinya masih dipasarkan di Desa Kemalo Abung sampai desa tetangga terdekat, seperti; Desa Trimodadi, Kembang Tanjung, Kali Balangan dan desa sekitarnya. Dengan produktifitas 2000 ribu biji batu bata perhari tersebut untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di desa tetangga saja masih kurang, mas," tuturnya menambahkan.

Dia optimis unit usaha pembuatan batu bata Bumdes Barokah dapat berkembang. Sebab, selain semua batu bata yang di produksi di tempat terserap habis di pasaran setiap hari dan tidak semua lokasi dapat menjadi tempat pembuatan batu bata karena konstur tanahnya mesti tanah lempung. Selain itu, di Desa Ratu Abung, usaha tobong batu telah menjadi bagian dari usaha rakyat.

Yudhi Hardiyanto

Berita Terkait

Komentar