#bambu#seni

Seni Merangkai Bambu Datangkan Lembaran Rupiah

( kata)
<i>Seni Merangkai Bambu Datangkan Lembaran Rupiah</i>
Caption; Bagio, perajin bambu, warga Dusun 2, Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan di bengkel kerjanya, merangkap tempat kediamannya di desa setempat, mengerjakan pesanan pelanggannya, Minggu (8-12-2019). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO


KOTABUMI (Lampost.co) -- Siapa yang tidak tahu tanaman bambu. Keberadaan tanaman tersebut melimpah ruah di Lampung Utara. Hanya saja, potensi untuk peningkatan penghasilan keluarga belum tergarap. Padahal dengan sentuhan kreatifitas, batang-batang bambu itu dapat di sulap menjadi barang kerajinan seni yang bernilai guna.

Perajin bambu, Bagio, warga Dusun 2, Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan di bengkel kerjanya menuturkan untuk mengawali usaha di bidang kerajinan mesti menggunakan hati. Kemudian akan mengalir ragam kreatifitas sebagai modal awal saat mengolah berbagai bahan bamboo. Ia mampu menyulap batang bambu menjadi produk yang indah di pandang dan punya fungsi sebagai pelengkap interior rumah tangga.

"Yang penting itu cinta serta ketulusan mas, kalau mau berhasil menggeluti usaha di bidang kerajinan dan hal tersebut juga berlaku untuk sukses dalam berbagai bidang usaha yang dilakoni," ujarnya.

Dari usaha kerajinan bambu yang di rintis sejak 1991, dia membuat meja, kursi, dipan dan gazebo. Untuk meja, dihargai Rp200 ribu/unit, kursi panjang Rp300 ribu/unit dan pendek Rp250 ribu/unit,sementara kursi tamu lengkap di hargai Rp.800 ribu/set, dipan perunit antara Rp500 ribu s/d Rp600 ribu sedangkan gasebo Rp2,5 juta/unit.

"Kalau ada pemesanan saya juga membuat tirai bambu dengan ukuran lebar 1, 20 meter dan tinggi 2 meter dengan harga berkisar Rp250 ribu/unit dan untuk model kerajinan bambu jenis yang lain, saya juga menerima pesanan sedangkan untuk harga tergantung kesepakatan" kata dia.

Sebulan, rata-rata terjual meja dan kursi masing-masing antara 2 hingga 3 unit dan gazebo sekitar 1 unit. Sedangkan dipan jarang ada pemesanan. Pembelinya masyarakat setempat hingga berbagai asal daerah, seperti Medan, Padang, Palembang, Bengkulu.

"Rezeki nomplok juga sering datang tiba-tiba. Seperti sekarang , ada pemesanan 30 unit gazebo untuk memenuhi permintaan waterboom di Way Kanan" ujarnya.

Untuk jenis bambu yang digunakan adalah bambu petung, sebab coraknya  bervariatif sehingga terlihat lebih artistik setelah dipletur, jika di banding dengan jenis bambu yang lain. "Bambu petung melimpah di seputar wilayah desanya dan desa tetangga. Sistem pembelian dilakukan secara borongan dengan harga berkisar Rp500 ribu/rumpun dan patokan harga itu dapat lebih tinggi tergantung besar kecilnya rumpun yang di tebang" tuturnya menambahkan.

Dalam usaha ini, bila banyak pesanan dari pelanggan yang mesti di buat, dia mempekerjakan tenaga harian yang di ambil dari warga setempat antara 2 - 3 orang dengan upah berkisar Rp70 ribu/orang.

Ia berharap ada peran pemda untuk mendukung industri kecil di wilayah.  Sebab, dari awal dia merintis usaha kerajinan bambu sampai berkebang hari ini, usahanya dilakukan mandiri. Padahal, keberadaan industri  kecil berkontribusi membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, karena mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang ada di seputar wilayah.

" Produk Industri Kecil Menengah (IKM) berkembang akan mampu mengangkat nama daerah, baru instansi buru-buru merangkul mereka dan dengan bangga mengatakan, ini adalah binaan saya". Sebenarnya apasih yang mereka cari mas. Padahal untuk membina suatu usaha untuk terus berkembang, bentuknya bukan hanya materi, tapi perhatian dengan rasa agar pelaku usaha tetap memiliki semangat untuk terus melangkah," tuturnya .

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar