karet

Petani Karet Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

( kata)
<i>Petani Karet Bertahan di Masa Pandemi Covid-19</i>
Caption; Nawan, warga Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Sungkai Barat, menyadap getah karet dilahannya, Kamis (25-6-2020). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO


Kotabumi (Lampost.co) -- Terpuruknya harga getah karet di Kabupaten Lampung Utara dari sebelumnya Rp7.000/kg turun menjadi Rp4.000/kg yang sampai Juni 2020 ini. Harga getah tercatat masih dikisaran Rp4.000/kilo.  

Bahkan, di beberapa wilayah pelosok pedesaan harga getah mingguan ada yang dihargai tengkulak Rp3.500/kg dengan pertimbangan jarak lokasi yang jauh, semakin mempersulit kondisi ekonomi yang dialami kaum tani. 

"Semenjak terpuruknya harga getah, seusai menderes karet saya mesti mencari tambahan penghasilan bagi keluarga dengan bekerja apa saja, seperti; upahan menanam singkong atau yang lainnya demi mencukupi kebutuhan harian" ujar Nawan, penyadap getah, warga Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Sungkai Barat, di kediamannya, Kamis, 25 Juni 2020. 

Di awal Januari 2020, harga getah karet mingguan sempat mengalami kenaikan dari Rp5.500/kg naik menjadi Rp7.000/kg. Sementara pada Februari, harga berangsur turun menjadi Rp6.000/kg, Pada Maret, harga kembali turun Rp5.000/kg dan April 2020 harga kembali jatuh di angka Rp4.000/kilo. 

Mei sampai akhir Juni 2020, harga itu belum beranjak mengalami kenaikan masih Rp4.000/kilo. "Dengan harga getah Rp4.000/kilo sudah tidak sebanding dengan beban kerja yang mesti saya  lakoni" kata dia.

Bila di rata-rata, dalam satu hektar, hasil getah yang di dapat sehari sebanyak 30 kilo, dengan harga jual sebesar Rp4.000/kilo di dapat hasil kotor sehari berkisar Rp120 ribu. Hasil itu, mesti di bagi tiga, satu bagian untuk penyadap, satu bagian pemilik lahan dan sisanya biaya pemupukan. 

"Dengan hasil kotor Rp120 ribu/hari, bila di kalkulasi hasil bersih  yang di terima petani karet berkisar Rp40 ribu. Sebelumnya kalau harga getah masih Rp7.000/kilo, hasil yang di dapat sehari, petani masih menerima Rp70 ribu/hari,  itupun bila hasil getah sadapan normal. Kalau penghujan berkepanjangan, hasil sadapan kurang dari 30 kilo/hari," kata dia. 

Untuk penjualan, langsung dibeli pengepul di tempat. Pengepul mengatakan terpuruknya harga karet karena pabrik pengolah karet slab yang ada di Sumatera seperti di Medan maupun Padang sudah tutup sejak pandemik korona dan tersisa hanya pabrik di wilayah Palembang.

"Saya hanya bisa pasrah dan di masa new normal, sebagai petani karet berharap pabrik pengolahan getah dapat kembali beroperasi sebab kalau sampai pabrik pengolahan getah karet tutup, kami sebagai petani karet mesti jual getah kemana," tuturnya.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar