#Humaniora#Sosial#PRT#Hari-Ibu

Perjuangan Suriyati dari Buruh Cuci Hingga Kuli Kopi

( kata)
<i>Perjuangan Suriyati dari Buruh Cuci Hingga Kuli Kopi</i>
Suriyati (Foto: Nur Jannah/Lampost.co)

 

Bandar  (Lampost.co) -- Sosok ibu kadang dianggap sebagai orang yang lemah. Dibalik kelembutannya, perempuan juga mampu melakukan yang bisa dilakukan laki-laki, berjuang demi menafkahi keluarga, mengantakan anak-anaknya hingga mandiri.

Kerasnya perjuangan hidup demi menafkahi keluarga tergambar oleh sosok perempuan Suriyati yang bejuang menafkahi ke empat anak-anaknya seorang diri. Ia merupakan warga Jalan Selat Malaka IV, Kampung Harapan Jaya, Panjang Selatan.

Suri, biasa dia disapa, mengaku bukan hal yang mudah sebagai seorang singel parent menafkahi  keempat putra-putrinya, segala cara ia tempuh. Pahit getir telah ia alami untuk menghidupi keluarganya selama ini.

Perempuan yang kini memutuskan membuka jasa cucian laundry itu mengaku naik turun kehidupan sudah pernah dia jalani. Mulai dari menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di lingkungan tempat tinggal mulai dari pukul 06.00 - 11.00 WIB.

Pekerjaan tersebut ia jalani selama empat tahun. Disamping menjadi PRT, Suri yang juga ketua Serikat Pekerja Rumah Tangga menjadi kuli panggul disebuah gudang kopi di kawasan panjang dari sore hingga dini hari. Pekerjaan tersebut berjalan hingga empat tahun.

"Jadi PRT karena waktu itu tidak ada pekerjaan, mau kerja di pabrik sudah tidak bisa karena umur,  dari pada nganggur, kebutuhan anak juga banyak akhirnya saya ditawari untuk bekerja rumah tangga, selain itu sorenya dari jam 4 sore kadang sampai jam 3 pagi di gudang," akunya.

Menurutnya bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu semua, selain menyambung hidup, juga demi pendidikan anak-anaknya untuk tetap bersekolah. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuka jasa laundry di rumahnya sekitar satu tahun terakhir.

Bahkan sebelum memutuskan untuk membuka jasa laundry suri mengaku menekuni profesi sebagai tukang ojek,  hal itu semua dia lakukan demi menyambung hidup bersama dengan empat anaknya.

"Awalnya buka laundry karena berhenti kerja di gudang,  sebab gudangnya direnovasi pindah ke PJR,  dan itu kejauhan kalau pulang malam bahaya. Sampai akhirnya ada tetangga yang minta tolong cuci, setrika dan akhirnya buka laundry," ungkap Suri.

Dalam sehari ia  mampu menerima antara 20-24 kg cucian/hari, mulai dari tetangga sekitar hingga pegawai kapal dilingkungan tempat tinggalnya.

Ia berpesan, sebagai perempuan harus mandiri,  tidak bisa tergantung dengan orang lain. Sebab kata dia kehidupan tidak selamanya mulus,  kadang di atas, terkadang juga di bawah.

"Jadi perempuan harus mandiri dan tangguh,  dalam menjalani kehidupan. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita kedepan," imbuhnya.

Ditengah-tengah kesibukanya sebagai ibu yang berkerja banting tulang, Suri juga merupakan sosok yang tangguh. Saat ini ia bersama dengan serikat Pekerja Rumah Tangga yang ia pimpin terus memperjuangkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang pekerja rumah tangga.  Menurutnya sampai saat ini banyak hak-hak yang tidak dipenuhi sebagai pekerja. 

Mulai dari jam kerja yang tidak jelas, tidak ada jaminan kesehatan, pekerja anak di bawah umur, tidak ada libur, termasuk saat sakit, serta tidak ada data tentang ART yang bekerja di majikan. Umumnya majikan tidak melapor ke RT jika memiliki ART sehingga tidak sulit jika dilakukan pendataan.

"Kita terus mendorong pemerintah mengeluarkan perwali, ini bermula dari keresahan kita sebagai PRT banyak hak-hak yang tidak terpenuhi. Kemudian kita lihat masih banyak majikan mempekerjakan anak dibawah umur,  dan masih banyak lagi," tutupnya.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar