#Ilegallogging#Pembalakanliar#Perang#Register19

Perang Melawan Pembalakan Liar

( kata)
<i>Perang Melawan Pembalakan Liar</i>
Satu unit mobil L300 pengangkut kayu sonokeling hasil pembalakan liar diamankan warga sekitar register 19. (Foto: Dok Lampost.co/Putra Pancasila Sakti*)


PESAWARAN (Lampost.co) -- Banjir bandang yang menerpa sejumlah wilayah di Kabupaten Pesawaran beberapa waktu silam memacu kesadaran masyarakat setempat untuk melindungi kawasan hutan lindung register 19. Mereka menyatakan perang terhadap pelaku pembalakan liar.

Nasrin warga Desa Padang Ratu, salah satu desa penyanggah kawasan hutan register 19 menuturkan, kala air bah menerjang, kayu kayu gelondongan, bahkan sebagian sudah menjadi balokan turun menghantam rumah warga.

“Kami menyadari banjir bandang tersebut terjadi lantaran hutan register 19 kian hari makin memperihatikan, gundul akibat pohon pohon penyanggah dan penahan air hujan habis dibabat,” ujarnya, Kamis 26 September 2019.

Nasrin menuturkan, kawasan hutan lindung yang dahulu kala rimbun kini kondisinya amat memprihatinkan. Banyak pohon pohon besar penahan air ditumbangkan satu persatu oleh oknum oknum orang tidak bertanggung jawab.

Mengacu pada hal tersebut, masyarakat sekitar kawasan hutan register 19 sudah berkomitmen bersama, untuk memerangi para oknum pelaku perusak alam. Hal itu lah yang mereka lakukan, Rabu malam, 25 September 2019.

"Tadi malam ada informasi ada mobil turun dari kawasan akan membawa kayu sonokeling. Mendengar informasi tersebut, 150 warga, menunggu mobil tersebut melintas, dan berniat akan menangkap dan membawa supir ke aparat penegak hukum. 

Setelah mobil jenis L 300 yang membawa kayu melintas, warga pun segera mengejar mobil tersebut. Meski sempat kehilangan jejak, setelah dicari hampir setengah jam, warga menemukan mobil tersebut di semak semak di dekat bumi perkemahan.

“Kami menemukan mobil yang membawa kayu hasil pembalakan liar itu di dekat bumi perkemahan yang ada di Desa Cipadang Kecamatan Gedongtataan. Saat kami temukan, mobil sudah pecah ban dan supir sudah tidak ada," ungkapnya.

Sayangnya, emosi warga tak terbendung mengetahui supir sudah tidak berada di tempat. Kemudian warga melampiaskan kekesalannya dengan membakar mobil L 300. "Ditambah warga mengetahui, kalau bencana banjir yang dialami mereka salah satu akibatnya adalah keadaan hutan yang gundul akibat pembalakan liar sering terjadi di daerahnya," tutupnya.

Putra Pancasila Sakti*







Berita Terkait



Komentar