#lamsel#bedahrumah#feature

Meski Kekurangan, Tidak Ingin Merepotkan Orang Lain

( kata)
<i>Meski Kekurangan, Tidak Ingin Merepotkan Orang Lain</i>
Pak Utun, warga pesisir Sumbermuli RT10/RW05 Dusun Karang Indah, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, saat membayar pesanan kusen rumahnya yang dibedah.Dok.

Kalianda (Lampost.co) -- Meski hidup serbakekurangan,  Bahrudin (48), yang rumahnya sudah reyot dan geribiknya bolong di sana-sini, justru tidak ingin merepotkan orang lain. Kegembiraan seakan tak terbendung saat rumah yang tidak layak huni itu akan dibedah menjadi bangunan permanen pada Minggu, 24 November 2019.

Rumah milik warga pesisir Sumbermuli RT 10/RW 05 Dusun Karangindah, Desa Toyoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, itu dibedah Radmiadi, sukarelawan Literasi Perahu Pustaka bersama Jangkar Pustaka yang dimotori Bripka Agung Gede Asmarajaya.

"Walau jauh dari cukup, saya  berupaya tetap mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari istri dan keempat anak. Sejak perahu satu-satunya teman mencari nafkah hilang diterjang gelombang tsunami akhir Desember 2018 lalu, saya memilih bekerja sebagai buruh lepas, meski hanya di saat-saat tertentu saja," ujar pria yang kerap disapa Pak Utun didampingi Radmiadi dan Bripka Agung Gede Asmarajaya.

Pak Utun mengaku tidak hanya membantu nelayan mencari tangkapan, dia juga menerima pekerjaan apa pun selagi mampu, walaupun hanya dibayar dengan upah seikhlasnya. "Kadang kalau ada orang nyuruh bersih-bersih rumah tetangga saya terima. Ini rumah yang bagus sebelah juga setiap hari saya yang membersihkan," katanya.

Pak Utun pun makin terbiasa mandiri sejak anak sulungnya yang telah berusia 17 tahun mulai bekerja sebagai buruh bagan congkel tahun lalu. Dia menambahkan tak ingin merepotkan putra sulungnya yang sudah bekerja. "Saya tidak mau merepotkan anak karena upahnya juga pas-pasan," katanya.

Pak Utun juga masih beruntung,  saat ini putranya pulang cukup lama sampai selesai pembangunan rumah yang didanai sukarelawan. "Tadi juga sudah dikasih uang sama Pak Radmiadi untuk bayar kusen Rp3,5 juta," katanya.

Radmiadi mengatakan rumah pak Utun dengan luas 7 x 9 meter ini akan dibangun permanen dengan pekerjaan sekitar 3 minggu. "Hari ini masih pemasangan pondasi. Semoga saya dalam waktu 3 minggu, rumah ini sudah bisa ditempati dan layak huni," katanya.

Bedah rumah ini bisa terlaksana karena ada beberapa sahabat baik merespons dengan memberikan berbagai donasi.  Ada membantu uang maupun material.  "Kami sangat berterima kasih atas partisipasi dari para sukarelawan dan para donatur yang telah meringankan beban hidup Pak Utun," katany juga koordinator SAR PT ASDP cabang Utama Merak ini.

Menanggapi kepedulian komunitas tersebut, salah salah seorang tokoh masyarakat setempat, Kasna mengaku sangat senang dan mengapresiasi bedah rumah warga yang tidak layak huni di pesisir Sumbermuli, Dusun Karangindah ini. "Kepedulian para sukarelawan buku bacaan  untuk anak-anak pesisir. Ini bukan baru pertama kali karena  bulan lalu rumah Pak Kliwon yang hendak roboh di pesisir pantai juga telah direhab total Pak Radmiadi dan Pak Agung Polair," ucapnya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar