#hobi#komunitas#feature

Merangkul Penghobi Harmonika dalam Komunitas

( kata)
<i>Merangkul Penghobi Harmonika dalam Komunitas</i>
Foto: DokHendri Setiadi, pengobi harmonika, menunjukkan koleksinya. Dia mengajak warga Lampung yang sehobi dengannya untuk membuat komunitas. DOKUMENTASI

ALUNAN merdu suara harmonika mengurung ruangan seluas 12 meter x 4 meter itu. Melodi Yoou Rause Me Up dari Josh Groban dengan mulus dilantunkan oleh Hendri Setiadi di kantor yang menjadi ruang kerjanya, malam itu, 5 Oktober 2019. Pria flamboyan ini memang kerap memainkan alat musik tiup itu bahkan di sela kesibukannya sebagai pimpinan sebuah surat kabar harian. 

Jiwa seni memang begitu kuat melekat pada sosok jurnalis yang juga seorang novelis ini. Maka itu, tak heran jika di dalam ruangan kerjanya, terdapat berbagai alat musik, seperti organ tunggal, gitar akustik, dan tentunya koleksi harmonikanya.

Baru tiga bulan ayah empat anak mengenal alat musik bersuara khas ini. Namun, Hendri sudah larut dengan sihir harmonika yang membuatnya kian kecanduan dengan alat musik ini. 

Maka itu, tak heran jika dalam waktu yang sesingkat itu, dia sanggup merogoh kocek untuk memburu sekitar 20 harmonika dari berbagai merek berkelas, seperti Seydel, Hohner, Suzuki, dan Lee Oskar. “Saya banyak memperolehnya lewat online melalui rekomendasi teman-teman yang mengerti,” katanya. 

Hendri mengaku awalnya dia menyukai harmonika karena memiliki bentuk fisik yang vintage. Namun, setelah dia mencoba memainkannya, pria ini malah ketagihan dan semakin ingin mendalami teknik-teknik membunyikan harmonika.
 
“Satu lubang pada harmonika ini bisa menghasilkan berbagai nada, bergantung tekniknya, apakah ditiup, disedot, atau menggunakan teknik bending. Nah, bending ini yang sampai sekarang belum saya kuasai, karena harus menggunakan kombinasi lidah untuk memvariasikan tekanan udara pada harmonika,” ujarnya seraya mencoba teknik bending tersebut.

Baginya, satu-satunya alat musik yang pernah dibawa astronot ke luar angkasa ini memiliki daya tarik dan tantangan tersendiri ketika memainkannya. Dia pernah menyelami gitar dan organ tunggal. Akan tetapi, begitu mengalami kesulitan, dia memilih untuk meletakkan alat musik tersebut. “Berbeda dengan harmonika ini. Saya justru malah makin ingin menguasainya,” katanya. 

Untuk lebih mendalami mainan barunya itu, penggemar pemain harmonika Sarah Saputri ini mengaku membutuhkan teman-teman yang sehobi agar bisa berbagi ilmu dan pengalaman dalam bermain harmonika. “Jika di Yogya dan Jakarta, sudah ada komunitasnya. Tapi, untuk di Lampung belum ada. Baru ada tiga orang yang saya kenal sama-sama hobi harmonika di Lampung,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap mampu merangkul sesama penghobi harmonika atau yang ingin memulai mencoba memainkan harmonika di Lampung untuk membentuk sebuah komunitas. Sebab, sampai saat ini dia hanya bisa berinteraksi dengan sesama penghobi dari luar daerah melalui media sosial atau belajar mendalami harmonika lewat saluran YouTube. 

“Bagi yang memiliki hobi harmonika atau yang ingin mulai mencoba harmonika, saya ajak untuk membuat komunitas untuk wilayah Lampung. Pasti seru kopi darat sambil membahas soal harmonika,” tutupnya.

Chairil Anwar

Berita Terkait

Komentar