#feature#beritalamsel#pembuatanperahu

Menghidupi Keluarga dari Jasa Pembuatan Perahu Jukung

( kata)
<i>Menghidupi Keluarga dari Jasa Pembuatan Perahu Jukung</i>
Samaun (46) warga asal Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, bersama kedua rekannya saat membuat perahu jukung di Desa Kunjir, Kamis (19/3/2020). Lampost.co/Armansyah


Kalianda (Lampost.co): Menjadi pengrajin perahu jukung merupakan sumber mata pencaharian sehari-hari yang dilakoni Samaun (46) warga asal Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Dengan gigih, Samaun bergulat dengan tumpukan kayu yang dirangkai hingga menjadi perahu jukung. 

Sejak 1985 Samaun mendalami pembuatan perahu jukung yang diturunkan langsung oleh sang ayahnya. Dengan keahlian dalam pembuatan perahu jukung, ia mampu menghidupi anak dan istri. Bahkan, kehidupannya hanya bergantung dengan keahlian yang dimilikinya. 

"Sejak tahun 1980 saya sudah sering membantu orang tua membuat perahu. Nah, sejak tahun 1985 saya mulai aktif menekuninya dengan mandiri," katanya, Kamis, 19 Maret 2020.

Hingga saat ini, bapak tiga anak itu masih mengandalkan keahliannya untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Bahkan, dari keahliannya itu ia mampu mensekolahkan kedua anaknya yang masih dibangku SMA dan SD. 

"Allhamdulillah, anak saya yang paling tua sebentar lagi lulus SMA. Anak kedua masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan satu lagi masih berusia 3 tahun. Ya, 70 persen semua biaya dari hasil pembuatan prahu jukung," katanya.

Samaun mengaku omzet yang didapat dari pembuatan perahu jukung tidak bisa ditentukan. Sebab, dalam pembuatan satu perahu hanya dibanderol berkisar Rp8,5 juta hingga Rp10 juta per perahu. Sedangkan, satu perahu mampu menghabiskan waktu paling cepat 2 hingga 3 pekan yang dibantu 2 orang pekerja lainnya. 

"Kalau sampai nombok sih enggak mas. Sebab, selain modalnya besar juga harus dibagi dengan pekerja yang membantu saya. Satu perahu biasanya hanya sisa Rp3 juta sampai Rp4 juta saja dan sisanya itu yang kami bagi-bagi,"  katanya. 

Pasca-tsunami yang melanda Selat Sunda pada Desember 2018 lalu, kata Samaun, tak sedikit perahu nelayan yang mengalami kerusakan bahkan sampai hancur. Sehingga, banyak donatur yang membantu memberikan perahu untuk nelayan di wilayah Kecamatan Rajabasa. Samaun pun mendapatkan beberapa pesanan perahu.

"Allhamdulillah, hingga saat masih banyak yang pesan dan sedang saya kerjakan. Saat ini saya menerima pesanan dari salah satu donatur sebanyak 9 unit dan sudah selesai 4 unit," ujarnya.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar