kemandirianpenggemukansapikemitraan

Membangun Kemandirian Ibu-ibu di Gerbang Sumatera

( kata)
<i>Membangun Kemandirian Ibu-ibu di Gerbang Sumatera</i>
Salah satu peternakan sapi di Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, beberapa waktu yang lalu. Sebanyak 96 warga yang tergabung KWT Mulya menjadi mitra binaan penggemukan sapi PT Pertamina. Lampost.co/Effran Kurniawan


HUJAN deras mengguyur Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (9/10) pagi. Langit yang dibalut awan kelabu tidak menyurutkan semangat dan tekad Sarjilah untuk berangkat ke kandang sapi menemui hewan ternaknya.

Dalam bangunan berukuran 20 x 10 meter yang berjajar di belakang rumah, wanita 65 tahun itu dengan didampingi suami, Sumarsono (70), memberi makan dan membersihkan kandang. Kegiatan itu menjadi kesehariannya, selain kewajiban mengurus suami dan anak-anaknya. 

Rutinitas serupa juga dijalani 95 ibu-ibu lainnya yang mengelola usaha penggemukan sapi mitra binaan PT Pertamina, yang tergabung dalam Asosiasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mulya. 

Intensnya Sarjilah berhadapan dengan sapi baru berjalan setahun terakhir, tepatnya saat menerima pinjaman program kemitraan Rp200 juta. Bantuan modal itu membantu keberlangsungan usaha yang dibangun suaminya. 

Dana itu digunakannya membeli 10 sapi seberat empat kuintal senilai Rp170 juta. Sisanya dibelanjakan kebutuhan pakan ternak. 

Sejak itulah tugasnya bertambah untuk membantu Sumarsono memelihara sapi yakni rutin memberikan makan tiga kali sehari. Pakan utamanya memanfaatkan kulit nanas, konsentrat, serta kulit singkong dan ampasnya. "Namun, sapi-sapi ini makannya paling lahap kalau diberi dedak dari sisa gilingan padi," kata Sarjilah.

Selain itu, kesehatan sapi juga didukung vitamin dan antibiotik. Dengan demikian, diharapkan pertumbuhan sapi rata-rata mencapai 0,8—1 kilogram per hari. Hasilnya dalam pemeliharaan selama setahun, 10 sapi itu kini tumbuh dengan berat rata-rata enam kuintal.

Menurut dia, ukuran itu sudah tergolong layak jual. Apalagi, di Oktober ini jatuh tempo pembayaran angsuran pertamanya kepada Pertamina Rp72 juta. Sehingga, dia memerlukan uang untuk memenuhi kewajiban tersebut. 

Namun, dia yakin sapi-sapi itu masih bisa terus tumbuh hingga berat 7—8 kuintal dengan tambahan waktu dua bulan. Sementara untuk membayar angsuran, dia akan menggunakan dana talangan.

"Kalau dijual sekarang masih sayang. Dijualnya juga bebas enggak ada aturan khusus karena Pertamina menyerahkan semuanya ke mitra. Biasanya saya jual ke Bangka Belitung, Padang, dan Jawa," ujarnya.

Kendati saat ini Sarjilah dan Sumarsono harus menggunakan kocek lainnya, mereka yakin saat sapi siap dijual hasil yang akan dipetik bisa lebih besar. Sebab, pola kemitraan yang berjalan itu mendukung kemajuan usaha masyarakat, seperti bunga pinjaman yang hanya 3% per tahun. 

Tingkat pengembalian itu jauh lebih rendah dibanding kredit modal yang pernah didapatkannya. Bahkan, prosesnya pun dipermudah dengan memberi kebebasan pada peternak dalam perhitungan pengajuan. "Pertamina paham kalau mitranya yang tahu kondisi di lapangan, untung dan ruginya," ujar dia.

Penerima pinjaman juga tidak serta-merta dilepas begitu saja usai dana dicairkan. Sebab, tim perusahaan pelat merah tersebut terus mengawasi perkembangan usaha mitranya dengan kerap datang ke kandang dan mencarikan solusi jika ada kendala yang dihadapi.

Penerima pinjaman juga rutin mendapat pembinaan dan pelatihan agar usahanya terus meningkat. Dari berbagai keuntungan itu, seharusnya kemitraan ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal para penerima dan tidak disalahgunakan. "Makanya harapan saya selesai tiga tahun ini, bisa memperpanjang kemitraan," kata dia.

Sutiah warga Stadion 24, Kelurahan Tejosari, Metro Timur, Kota Metro menjadi mitra binaan Pertamina setelah usaha tapis yang ditekuninya mendapatkan pinjaman Rp50 juta. Foto: Effran Kurniawan

Manfaat Ganda
Ketua Asosiasi KWT Mulya, Suparti, mengatakan kemitraan dengan Pertamina berawal sejak Oktober 2019 yang mengucurkan Rp3 miliar kepada 21 orang. Harmonisnya perkawinan bisnis dengan masyarakat membuat perusahaan di bidang minyak dan gas bumi itu memperbesar persekutuannya dengan mengalirkan dana hingga Rp17 miliar bagi 106 penerima pada Maret 2020. 

Total terdapat 127 mitra binaan Pertamina di Lampung Tengah yang tergabung dalam Asosiasi KWT Mulya yang tersebar di 22 kecamatan dengan 122 kelompok. 

Besarnya potensi peternakan di daerah itu membuat kemitraan tersebut didominasi usaha pengembangbiakan dan pemeliharaan hewan ternak dengan jumlah 96 orang. Sektor lainnya terdapat perikanan, pertanian, dan perdagangan, seperti usaha kecil dan mikro (UKM), bengkel, serta konveksi.

Dalam dua gelombang program tersebut digulirkan, anggota kelompoknya lancar membayar angsuran. Dengan pola pengembalian selama tiga tahun yang disesuaikan pada sektornya. "Misalnya peternakan, tempo angsurannya setahun sekali, pertanian enam bulan sekali, dan UMKM tiap bulan," kata Suparti.

Kemitraan tersebut juga memberikan benefit lainnya. Mitra binaan tidak dilepas begitu saja saat pinjaman dicairkan. Namun, ada pengawasan dan pembinaan agar usaha warga membaik. Pelatihan terbaru diberikan bagi peternak penggemukan sapi terkait kelembagaan, kesehatan hewan, dan cara pemeliharaan yang baik.

Dia menilai setahun berjalannya kemitraan tersebut mampu mengubah ibu-ibu di Lampung Tengah menjadi lebih tangguh dan mandiri. Jika awalnya wanita daerah tersebut hanya menjadi objek penerima bantuan dan sulit dibentuk kemandiriannya, saat ini pola pemikirannya lebih berkembang. 

Sebab, kemitraan tersebut tidak sekadar memberikan pinjaman, tetapi turut memperkuat kapasitas sumber daya manusianya sehingga wanita anggota asosiasi KWT Mulya bisa menambah pendapatan keluarga.

"Kalau biasanya di dapur dan sumur, sekarang ibu-ibu juga memanfaatkan potensi sekitar. Bahkan, petani sayuran organik di Bandarjaya sekarang bisa bekerja sama dengan rumah sakit dan hotel," ujarnya.

Majukan Masyarakat
Region Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) Dewi Sri Utami mengatakan program kemitraan Pertamina sesuai dengan Peraturan Menteri BUMN: PER-02/MBU/7/2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri BUMN PER-09/MBU/7/2015 tentang Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan BUMN.

Berdasar aturan itu, Pertamina memberikan pinjaman maksimal Rp200 juta dengan kriteria memiliki perseroan atau badan usaha yang berdiri sendiri minimal selama enam bulan. Dengan aset bersih maksimal Rp500 juta dan omzet paling tinggi Rp2,5 miliar per tahun.

Pinjaman diberikan kepada warga Indonesia yang memiliki potensi dan prospek usaha pada sektor apa pun, seperti peternakan, perikanan, pertanian, perkebunan, industri kreatif, perdagangan, dan jasa. Calon mitra juga disyaratkan tidak terikat dengan utang di perbankan. 

Pengajuan itu bisa dilakukan secara daring dengan mengisi formulir yang bisa diunduh di situs resmi Pertamina dan dikirimkan melalui pos-el. Namun, khusus di Lampung pihaknya menjemput bola melalui rumah kreatif BUMN (RKB) guna mempermudah pengajuan. "Sebab, wadah itu menggaet kelompok-kelompok usaha," kata Dewi.

Program yang bersumber dari 2% laba perusahaan itu ditujukan memajukan masyarakat melalui pola pinjaman bergulir. Mitra binaan bisa memperpanjang kemitraan hingga tiga kali setelah masa peminjaman tiga tahun diselesaikan. Dengan asumsi pada tahap ketiga usaha warga menjadi UMK naik kelas sehingga dana program kemitraan dapat digulirkan kepada UMK lainnya. 

Untuk memajukan masyarakat, kemitraan juga dirancang agar tidak membebani masyarakat. Untuk itu, jasa administrasi pinjaman ditetapkan hanya 3% per tahun. Angsuran pun dibayar berdasarkan sektornya, mulai dari bulanan untuk pedagang, tiap enam bulan bagi pertanian, dan tahunan untuk peternakan. 

Biaya jasa itu pun tidak diserap kembali untuk kas perusahaan. Namun, dimanfaatkan untuk kebutuhan mitra, seperti biaya pelatihan dan kegiatan lainnya. "Kalau produk makanan bisa dipakai untuk pengurusan sertifikasi halal dan BPOM. Itu juga kami bantu karena tujuannya kan agar UKM naik kelas," ujarnya.

Dewi menguraikan realisasi program kemitraan sepanjang 2020 ini mencapai Rp20,96 miliar. Nilai tersebut diserap 134 mitra binaan di Lampung yang mencapai Rp19,84 miliar. Sisanya Rp1,12 miliar diberikan bagi usaha masyarakat di Sumatera Selatan.

Adapun untuk Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung, yang juga di bawah regional Sumbagsel, masih dalam tahap survei calon mitra. "Untuk Bangka Belitung dan Bengkulu ada pengajuan yang sudah disetujui, tetapi belum disalurkan," ujar dia.

Dia mengakui penyaluran di Lampung menjadi yang terbesar. Sebab, wilayah pintu gerbang Sumatera tersebut memiliki banyak sentra usaha, seperti peternak sapi dan tambak udang. Selain itu, masyarakatnya pun giat dan lancar dalam pengembalian.

Dengan diberikan pinjaman, Pertamina juga tetap menjaga hubungan dengan masyarakat melalui pembinaan dan pelatihan, khususnya terkait pengelolaan keuangan. Sebab, umumnya masyarakat mengelola keuangan secara tradisional. "Saat panen uangnya kumpul dan habis untuk belanja. Namun, saat untuk memutar uangnya lagi tidak ada," kata dia.

Selain itu, sebagai pembina juga berusaha mendengarkan masalah yang dihadapi, seperti peternak penggemukan sapi terkait hewan peliharaan sakit dan susah makan sehingga badannya kurus. Untuk itu, pihaknya menggandeng Dinas Peternakan guna mengedukasi cara beternak sapi yang baik.

Produk mitra binaan juga berkesempatan dibeli Pertamina. Contohnya saat menjelang Lebaran atau menjajakan produk makanan UMK binaan di Bright Store. "Lalu saat Lebaran kurban, daripada Pertamina membeli di pasar hewan, lebih baik membeli ke mitra binaan dengan kualitas dan kesehatan terjamin," ujarnya.

Atas segala manfaat tersebut, pihaknya akan terus mencari potensi-potensi usaha khas dan unggulan yang dapat digali dari berbagai daerah. "Harapannya bisa terus memajukan usaha dan mendorong kesejahteraan masyarakat," kata dia.

Realisasi Program Kemitraan Pertamina regional Sumbagsel Tahun 2020

Sumber: Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar