#ekbis#umkm#beritalampung

Memaksimalkan Efisiensi Jadi Solusi PD Aroma Sejati Bertahan dan Bangkit Melawan Pandemi

( kata)
<i>Memaksimalkan Efisiensi Jadi Solusi PD Aroma Sejati Bertahan dan Bangkit Melawan Pandemi</i>
Andi Suhendi, pendiri PD Aroma Sejati menunjukkan foto saat menerima dua kali penghargaan yang diperolehnya. Lampung Post/Adi Sunaryo


Bandar Lampung (Lampost.co): Begitu cekatan tangan-tangan pekerja industri rumahan itu mengupas satu demi satu pisang sebagai bahan dasar pembuatan keripik khas Lampung. Pada bagian lain, kepulan asap minyak panas berpadu dengan suara riak minyak menggoreng irisan pisang menjadikan suasana kesibukan para pekerja mulai dari pria, hingga ibu-ibu rumah tangga untuk fokus pada bagian tanggung jawab dan pekerjaan masing-masing. Begitulah rutinitas sehari-hari di industri rumahan keripik pisang PD Aroma Sejati yang berada di Gang Kelana, Langkapura, Kota Bandar Lampung.

Namun, sejak wabah Covid-19 melanda Tanah Air pada awal Maret 2020 lalu, geliat industri rumahan di Lampung menjadi lesu. Tak bisa dipungkiri segala lini sektor perekonomian merasakan dampaknya. Bahkan tak jarang sejumlah perusahaan, apalagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) gulung tikar karena tidak mampu lagi bertahan melawan ganasnya gejolak ekonomi akibat pandemi.

Usaha keripik pisang PD Aroma Sejati pun turut terkena imbasnya. Pendiri PD Aroma Sejati, Andi Suhendi, mengaku usahanya sempat merugi akibat jumlah pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran biaya produksi, gaji pekerja, dan operasional lainnya. Pandemi Covid-19 menjadikan usahanya sepi permintaan barang akibat kelesuan ekonomi. “Saat awal pandemi kita belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, sampai terpaksa menjual 2 unit mobil untuk menutupi defisit usaha kita,” kata Andi, saat ditemui di tempat usahanya, Rabu, 1 September 2021.

Sebelum adanya wabah Covid-19, produk keripik pisang khas Lampung selalu ramai permintaan. Namun setelah adanya pandemi yang mengharuskan seluruh lapisan masyarakat menerapkan protokol kesehatan dan membatasi aktivitas, banyak kegiatan pameran dan pariwisata di Lampung yang terhenti bahkan ditutup. Padahal permintaan produk oleh-oleh keripik pisang khas Lampung sangat tergantung pada ramainya jumlah kunjungan wisatawan ke Lampung.

“Kita punya pelanggan tetap seperti hotel, teminal, pelabuhan, dan bandara yang menjadi akses para pelancong atau wisatawan baik domestik maupun luar provinsi untuk membeli produk oleh-oleh dari kita. Tapi karena jumlah kunjungan wisata menurun drastis, penjualan kita juga menurun drastis. Saat ini kita hanya mengandalkan langganan dari sektor lain pada supermarket dan toko oleh-oleh saja,” katanya.

Adanya wabah Covid-19 diakui Andi membuat sarana promosi produknya terbatas karena banyak kegiatan pameran yang dibatalkan atau ditiadakan. Diakuinya PD Aroma Sejati selalu rutin mengikuti atau dilibatkan dalam setiap pameran UMKM, karena dinilai penting untuk mempromosikan atau mengenalkan produknya kepada masyarakat luas.

Sejumlah pekerja sedang mengupas pisang segar sebagai bahan baku pembuatan keripik pisang. Dok/PD Aroma Sejati


“Pandemi Covid-19 ini memang benar-benar membuat usaha kita selalu minus. Kita pernah ditempatkan pada posisi yang benar-benar sulit dengan omzet yang hanya bisa dicapai Rp3 juta dalam sebulan. Itu benar-benar jadi pukulan terberat bagi usaha kami,” kata Andi.

Meski demikian, pria kelahiran Malang, 30 Agustus 1959 itu pun pantang menyerah untuk tetap mempertahankan usaha yang dirintis sejak 1986 itu agar tetap hidup. Menurutnya UMKM yang masih bisa berdiri di tengah pandemi ini adalah UMKM yang tahan banting. “Dengan harapan kita punya kekuatan. Kalau enggak ada harapan ya berarti mati,” katanya.

Berbekal semangat dan harapan, peraih penghargaan Paramakarya 2005 dan Upakarti 2012 itu kemudian melakukan sejumlah perubahan proses produksi dan manajemen atau strategi marketing pada usahanya dengan mengikuti porsi permintaan pasar. Pertama, Andi menerapkan sistem kerja rolling kepada para pekerjanya. Yakni memakai sistem sepertiga masuk kerja, sementara dua pertigannya off atau libur kerja. “Saat ini kita memiliki 15 tenaga kerja yang berasal dari warga sekitar. Sebisa mungkin kita mempertahankan mereka agar tetap bisa bekerja dan punya penghasilan. Namun, porsi pekerjaan dan upah mereka juga kita pangkas,” kata dia.

Kedua, PD Aroma Sejati mengurangi stok bahan baku pisang. “Saat pandemi ini kita tidak menyetok bahan baku pisang terlalu banyak. Kita akan membeli bahan baku lagi jika stok bahan baku sudah menipis atau habis. Selain menghemat tempat karena tidak lagi menyewa gudang, risiko bahan baku busuk pun menjadi kecil. Kerugian dapat kita hindari,” kata dia.

Ketiga, mengurangi beban biaya kemasan dengan beralih dari kemasan kaleng ke kemasan karton. “Sebelumnya kita punya kemasan premium yaitu kaleng. Namun, saat ini kita beralih ke kemasan sekundernya, yakni karton. Namun, mutu dan kualitasnya tetap sama,” kata dia.

Keempat, memangkas biaya rutin atau beban pokok usaha. Diantaranya meniadakan sewa gudang, mengurangi konsumsi listrik, dan mengganti pemakaian kendaraan angkut pribadi dengan kurir atau jasa angkut. “Karena kita sudah tidak menyetok atau menimbun bahan baku banyak. Kita sudah tidak pakai lagi sewa gudang dan penerangan listrik. Angkutan barang pun kita sudah pakai jasa kurir atau angkutan online, karena lebih murah. Tidak lagi mengeluarkan biaya bahan bakar, upah sopir, dan biaya service mobil,” kata dia.

Selanjutnya, meski pandemi Covid-19 ini mengharuskan untuk membatasi kegiatan atau kontak fisik. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Andi untuk terus mempromosikan produk makanan khas Lampung secara daring. Selain penjualan offline, PD Aroma Sejati juga menyediakan penjualan produk secara daring melalui toko online seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan lainnya.

“Kami juga mengikuti perkembangan zaman, dimana saat ini sistem penjualan online juga menambah porsi jumlah penjualan produk kita. Sebanyak 30 persen online dan 70 persennya offline,” kata Andi.

Saat ini, PD Aroma Sejati masih rutin memasok produk keripik pisang di outlet-outlet di Lampung, diantaranya Bandara Radin Inten II, Pelabuhan Bakauheni, Superstore Chandra, Banana Foster, dan sejumlah toko ritel dan toko oleh-oleh lainnya yang ada di Lampung. PD Aroma Sejati juga memasok permintaan produk keripik pisang khas Lampung ke luar provinsi seperti Samarinda, Pekanbaru, dan Jakarta.

Andi mengaku sangat bersyukur, karena omzet usahanya saat ini sudah membaik. Rata-rata dalam sebulan omzet usahanya sudah mencapai angka Rp50 juta. “Puncak usaha kita, omzet pernah mencapai Rp500 juta sebulan. Normalnya sebelum pandemi Rp150-200 juta sebulan. Namun saat ini di tengah pandemi omzet rata-rata kita sudah Rp50 juta. Alhamdulillah,” katanya.

PD Aroma Sejati merupakan industri rumahan yang konsen mengolah pisang segar dan matang agar memiliki nilai lebih atau nilai tambah menjadi produk makanan ringan khas Lampung. Segala penjuru Tanah Air pasti sudah tak asing lagi dengan produk keripik pisang dan olahan pisang khas Lampung. PD Aroma Sejati memiliki produk unggulan olahan pisang roll dan stick yang berbahan dasar pisang muli matang atau lebih dikenal dengan nama pisang mas di daerah luar Lampung, diolah dengan proses vacum frying tanpa tambahan bahan apapun sehingga memiliki cita rasa manis alami dan otentik. PD Aroma Sejati juga memiliki produk keripik nangka dan keripik pisang kepok dengan pilihan rasa original atau asin, cokelat, keju, dan manis.

Sebagai UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung yang telah memiliki bekal kewirausahaan dan strategi pemasaran produk UMKM, PD Aroma Sejati yakin mampu melewati gejolak perekonomian akibat pandemi Covid-19. Tidak hanya PD Aroma Sejati saja, namun banyak industri rumahan keripik pisang lain yang ada di Bandar Lampung menggantungkan harapan agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan perekonomian Tanah Air kembali bangkit.

Winarko







Berita Terkait



Komentar