#roti#umkm

Legitnya Bisnis Roti Tape ‘Bunda Alia’

( kata)
<i>Legitnya Bisnis Roti Tape ‘Bunda Alia’</i>
Ahmad Junaidi, warga Gang Dadali 5 /Cimahi No. 56, Kelurahan Tanjung Aman, Kecamatan Kotabumi Selatan, menunjukkan roti tape produksinya dikedimannya Jumat (6-12-2019). Lampost.co/Yudhi H

Kotabumi (Lampost.co) -- "Ini hanya dua keping biskuit kreker yang disatukan tape singkong ditengahnya. Tapi, dengan sentuhan kreatifitas saat pengolahan, rasa biskuit yang berpadu dengan tape tersebut akan lebih legit jika di banding rasa biskuit aslinya dan kami menamakannya roti tape,"  kata Ahmad Junaidi, perajin roti tape, warga Gang Dadali 5 /Cimahi No. 56, Kelurahan Tanjung Aman, Kecamatan Kotabumi Selatan, sambil mempersilahkan Lampost.co mencicipi hidangan roti tape di kediamannya, Jumat, 6 Desember 2019.

Awal merintis usaha roti tape bersama istrinya, Alia, sekitar Agustus 2019 lalu, karena tuntutan kebutuhan ekonomi. Sebab, pasokan roti wijen yang dulu dikirim kakaknya dari Banjit, Way Kanan sudah tidak lagi berproduksi. Sedangkan warung-warung yang dititipi roti wijen di seputar Kecamatan Kotabumi dan Kotabumi Selatan, sering menanyakan kedatangan roti tersebut.

"Dulu pekerjaan saya kanvas roti wijen keliling ke warung-warung. Saat pasokan terhenti karena usaha kakaknya mengalami kendala dan pedagang sering menanyakan roti itu, saya memproduksi roti tape untuk menggantinya agar pasokan roti ke warung-warung tersebut tidak terhenti," ujarnya.

Untuk memulai, dia membuat 5 bungkus roti tape dengan merek "Bunda Alia" dengan isi perbungkusnya 20 pcs yang dijajakan via online. Ternyata ada pemesannya, lalu jumlah barang dinaikkan menjadi 10 bungkus, barang juga habis dipesan, terakhir naik menjadi 20 bungkus dan tetap laku terjual.

"Karena tidak ada keluhan dari pelanggan tentang masalah rasa, roti tape tersebut saya beranikan diri dititipkan ke grosir maupun ke warung-warung yang sebelumnya menjadi langganannya," tuturnya.

Sebulan, rata-rata sekitar 145 dus roti tape terjual. Setiap dus terdiri dari 58 bungkus dengan harga jual perbungkus Rp10 ribu. Untuk pembuatan roti ini, pengerjaannya butuh ketelatenan saat mengisi tape di tengah dua keping biskuit dan proses itu tidak boleh dilakukan tergesa-gesa karena bila adonan tape tidak rapi, maka roti tape itu tidak layak jual.

"Setelah biskuit selesai disatukan dengan tape,  dilanjutkan proses penggorengan dan terakhir pengemasan. Bila di total untuk sekali produksi, dibutuhkan waktu sekitar 12 jam dan waktu pengerjaan paling lama hanya saat mengoleskan tape pada dua keping biskuit," kata dia.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar