#Sosial#Kisah#Lamsel

Lapak Digulung Tsunami, Idah Tetap Tegar Mencari Nafkah

( kata)
<i>Lapak Digulung Tsunami, Idah Tetap Tegar Mencari Nafkah</i>
Subaydah warga Dusun Bladung, Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, saat berjuang mencari nafkah di Pelabuhan Dermaga Canti, Rabu, 12 Februari 2020. (Armansyah/Lampost.co)

Kalianda (Lampost.co) -- Rabu pagi, 12 Februari 2020. Wanita paruh baya itu tengah sibuk melayani konsumen yang hendak membeli sayur mayur di lapak dagangannya di Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Wanita yang berjuang mencari nafkah itu Subaydah namannya. Ia merupakan warga Dusun Bladung, Desa Canti, Kecamatan Rajabasa. Subayda kesehariannya berjualan sayuran dan kopi seduh di areal Pelabuhan Dermaga Canti sejak pelabuhan itu mulai beroperasi.

Wanita yang kerap disapa Bi Idah itu mulai mengadu nasib dengan berdagang kopi seduh sejak 1976. Tahun demi tahun Bi Idah menyajikan kopi untuk konsumennya yang sambil menunggu kapal perahu yang mau berlayar menuju Desa Tejang Pulau Sebesi.

"Dulu saya mulai berdagang sejak pelabuhan Canti mulai dibuka. Waktu itu anak saya yang tua masih SD. Awal mulanya saya berjualan ketoprak dan kopi untuk membantu suami menafkahi keluarga. Suami hanya buruh tani," katanya.

Susah sedihpun sudah puas di alami oleh wanita yang memiliki lima anak, 13 cucu dan dua buyut itu. Dengan penghasilan di bawah rata-rata, dirinya mampu bertahan sampai usia sang suami tercinta di renggut sang Ilahi pada 2003 lalu.

"Kini saya tinggal bersama anak saya yang nomor empat namanya Samsul Budiono.  Sekarang ini saya melanjutkan pekerjaan suami sebagai petani. Sementara itu anak-anak saya yang lain merantau ke luar daerah," katanya.

Saat musibah Tsunami melanda Selat Sunda pada 2018 lalu, Bi Idah merasakan kesedihan yang amat mendalam lantaran lapaknya terseret gulungan ombak, sehingga tidak ada satu barang dagangan yang bisa diselamatkan.

"Saya pernah berhenti berjualan karena warung saya habis di terjang tsunami dan tak ada yang tersisa, tapi ada warga yang memberikan terpal dengan ukuran 4X8 cm saya kembali membuka warung kopi dan saya lengkapi dengan sayur-sayuran," ujarnya.

Mengenai omset yang didapatkan, Bi Idah mendapatkan berkisar Rp20 ribu - Rp30 ribu per hari. Ya, tergantung pada musim panen di Pulau Sebesi. "Tergantung musim di Pulau sebesi, kalau saat ini hanya cukup sekedar untuk makan saja tapi kalau di pulau sebesi ada panen biasanya bis amencapai Rp50-80 ribu perhari," katanya.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar