#kopi#lampura

Kisah Secangkir Kopi Petik di Register 34

( kata)
<i>Kisah Secangkir Kopi Petik di Register 34</i>
Caption; Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sido Kayo, Kecamatan Abung Tinggi, Subagio, menunjukkan potensi tanaman kopi di desanya,  Minggu (1-12-2019). Lampost.co/Yudhi Hardiyanto

Kotabumi (Lampost.co) -- Kabut turun dari kawasan Register 34 Tangkit Tebak setiap pagi. Menyelimuti hamparan kebun kopi robusta  yang di tanam petani  Desa Sido Kayo, Kecamatan Abung Tinggi. Tumbuhan itu berdiri kokoh pada ketinggian 800 mdpl. 

Bagi mereka, seduhan kopi petik merah yang  dihidangkan di cangkir sebagai jamuan penghormatan para tamu bukan sebatas cita rasa. Tapi, di setiap butir kopi pada minuman itu terselip asa. Berharap agar kehidupan keluarga untuk hari esok dapat lebih baik.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sido Kayo, Kecamatan Abung Tinggi, Subagio, mengatakan butuh ketekunan  untuk memanen kopi petik merah. Petani mesti memilih kopi yang sudah benar-benar matang di pohon.

Sehingga panen tidak dapat dilakukan serentak. Mereka mesti beberapa kali turun ke areal hanya untuk melakukan pemanenan. "Mesti sabar memanen kopi petik merah, sekitar 2  sampai 3 hari sekali, petani mesti datang ke areal lahannya sehingga proses pemanenan itu dapat berlangsung antara 2 bulan 4 bulan ke depan," ujarnya.

Anggota Poktan Mulya Sari sebanyak 25 orang. Tiap anggota menyetor 5 kg kopi dengan proses natural (petik merah langsung jemur) dan terkumpul 125 kg/tahun. Namun, saat ditawarkan ke pedagang dengan harga Rp25 ribu/kg tidak laku. Maka petani terpaksa menjual kopi dengan harga standar asalan yakni Rp22 ribu/kg.

"Saya tidak menyerah, di 2015, produksi kopi petik merah ditingkatkan. Per anggota 10 kg dengan total kopi terkumpul 250 kg. Kemudian ditawarkan ke pedagang Rp30 ribu/kg dan di beli kafe Rp28 ribu/kg dengan  total pembelian 170 kg. Semnetara sisanya 80 kg di jual kopi asalan yang harga turun menjadi Rp19 ribu/kg" kata peraih juara II lomba cerdas cermat Festival Kopi Lampung 2019 itu.

Pada 2016 ia kembali meningkatkan produksi kopi petik merah. Per 20 kg terkumpul 500 kg, terjual 324 kg seharga Rp30 ribu/kg. Sedangkan 176 kg sisanya dijual asalan Rp18.300,-/kg. Kemudian 2017, produksi kopi petik merah tidak berubah, yakni  500 kg, namun hanya terjual 211 kg seharga Rp30 ribu/kg dan sisanya, 289 kg dijual kopi asalan. Harganya turun jadi Rp18 rbu/kg.

Begitu juga tahun 2018, produktifitas tidak berubah 500 kg, terjual 283 kg dengan harga Rp30 ribu/kg dan 217 kg sisanya di jual kopi asalan yang nilainya anjlok menjadi Rp17. 500,-/kg,” paparnya.

" Saya "korban penggiat kopi" karena tidak difasilitasi Pemkab. Lampura dari awal dalam pemasaran kopi petik merah dan pelatihan yang dilakukan mengenai hal itu terkesan "lips service" " tuturnya.

Pada 2019, ia nekat mengolah kopi petik merah dengan membeli langsung ke petani di poktannya sebanyak 800 kg,  seharga  Rp27 ribu/kg. Kopi tersebut diolah menjadi produk sendiri, yakni green bean dengan kadar air 12 persen hingga 13 persen dengan harga Rp30 ribu/kg dan roasting (biji siap bubuk) seharga Rp80 ribu/kilo.

“Kopinya baru tembus ke kafe-kafe, bahkan pemesanan sampai ke kafe di Aceh dengan ongkos kirim lebih mahal dari pada harga beli kopi,” ungkapnya.

Bahkan sampel produknya dikirim ke Jepang dan Brunei Darussalam. Selain itu, ia telah diundang menjadi anggota assosiasi eksportir dan industri kopi Indonesia (AEKI).

“Saya berharap dengan produk kopi petik merah, ke depannya kehidupan petani di gunung dapat lebih sejahtera dan tidak terombang-ambing harga kopi yang tidak pasti,” pungkasnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar