#barongsai#BandarLampung

Kisah Dua Pemain Barongsai Asal Kota Bandar Lampung

( kata)
<i>Kisah Dua Pemain Barongsai Asal Kota Bandar Lampung</i>
Barongsai. Lampost.co/Andi Apriyadi

Bandar Lampung (Lampost.co) -- "Selagi kita tekun belajar, bekerja keras dan tidak mudah menyerah, pasti semua itu akan berhasil". Kalimat itu terucap dari dua orang pemuda asal Kota Bandar Lampung yakni Ridwan (20) warga Jalan Ikan Bawal, Kangkung, Telukbetung Selatan dan Kevin (20) warga Jalan Gatot Subroto, Garuntang.

Keduanya kini resmi menjadi pelatih barongsai Yayasan Suaka Insan Mandiri, Bandar Lampung, yang terletak di Jalan Ikan Tongkol, Pesawahan, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.

Dua orang pemuda ini nampak cekatan saat mempertunjukkan atraksinya memainkan barongsai berbentuk singa yang merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Tiongkok. Dengan diiringi tabuhan gendang, sembal atau gembreng dan gong, keduanya terlihat seperti menari-menari.

Gerakan barongsai yang dipertunjukkan keduanya seperti mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh enam orang. Tidak hanya menari Ridwan yang berada di bagian kepala dan Kevin di bagian belakang barongsai bergerak dengan kompak.

Tak hanya sampai di situ, kedua pemuda ini menggerakkan barongsai mampu meloncat keatas tonggak khusus barongsai yang berjumlah 11 dengan ukuran tinggi berbeda-beda, dari 1 sampai 2 meter lebih dan dialas kasur busa agar mereka terjatuh tidak terluka.

Ridwan pelatihan barongsai menceritakan, dirinya mulai menekuni barongsai sejak berusia 10 tahun. Berawal dari sekedar menonton pertunjukan barongsai yang kerap tampil tidak jauh dari kediamannya.

"Waktu umur saya 10 tahun saya sering nonton pertunjukan barongsai ini. Kemudian saya perhatikan kayanya seru sekali, terus dalam hati berkata, saya ingin bisa kaya mereka," ujarnya saat ditemui ditempat latihannya, Rabu, 21 Januari 2020.

Lanjut Ridwan, dirinya penasaran dan kemudian mencari tahu tempat latihan atraksi barongsai. Ternyata tempat latihannya tidak jauh dari kediamannya.

"Terus saya sama Kevin sering nonton mereka latihan barongsai, nggak lama kami berdua nanya bagaimana cara gabung di sini," kata dia.

Ridwan mengaku awalnya orangtuanya tidak setuju dan tidak mengetahui bahwa ia berlatih barongsai. Seiring waktu berjalan akhirnya mengetahui dirinya berlantih barongsai.

"Orangtua tahu saya ikut barongsai waktu saya tampil. Kalau nggak salah usia saya masih 10 sampai 11 tahun, tapi sekarang mereka sudah setuju," paparnya.

Ia juga menceritakan, suka duka selama berlatih barongsai sering mengalami luka bahkan kaki dan tangannya sampai terkilir. Tak hanya sampai di situ, pada saat latihan ada warga sekitar tidak senang.

"Kalau keseleo sudah biasa, apalagi kalau berlatih naik tonggak. Kami juga kalau latihan sering dilempar batu oleh warga sekitar, mungkin kami berisik. Kalau untuk senangnya sekarang barongsai sudah jadi cabang olahraga," urainya.

Hal senada juga diungkapkan Kevin (20) asisten pelatih yang mengaku senang dapat mempertunjukkan barongsai meski butuh berlatih dengan keras. "Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa memainkan barongsai, yang dulu awalnya cuma bisa nonton, sekarang saya sudah bisa tampil," kata dia.

Ia mengungkapkan, hasil dari pertunjukan barongsainya mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari dan membantu orangtuanya. Apalagi saat menyambut Tahun Baru Imlek.

"Kalau mau Tahun Baru Imlek ini kami sering tampil, bukan hanya di Imleknya saja, bahkan sesudah Imlek kami sudah banyak diminta untuk tampil," tandasnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar