#feature#beritalamsel#hidrosefalus

Keluarga Bocah Penderita Hidrosefalus di Mekarmulya Luput dari Perhatian Pemerintah

( kata)
<i>Keluarga Bocah Penderita Hidrosefalus di Mekarmulya Luput dari Perhatian Pemerintah</i>
Resta Nauri (22 bulan) pengidap Hidrosefalus saat dipangkuan ibunya Titin Handayani (31) di kediamannya di Dusun Karangmekar, Desa Mekarmulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (29/7/2020). Lampost.co/Armansyah

Kalianda (Lampost.co): Bocah balita itu nampak seperti anak normal ketika dipangkuan sang ibu di rumahnya dengan ukuran 7x6 meter di Dusun Karangmekar, Desa Mekarmulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu, 29 Juli 2020.

Bocah balita yang penuh perban di kepalanya itu adalah Resta Nauri namanya. Diusia 22 bulan atau 1 tahun 10 bulan, Resta terpaksa harus menjalani operasi di kepalanya karena mengidap hidrosefalus.

Namun, sayang kelurga pengidap hidrosefalus itu hingga kini luput dari kepedulian dari pemerintah desa setempat.

Betapa tidak, di tengah pandemi virus Covid-19 mereka sama sekali tidak mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun, baik program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan nontunai (BPNT), sembako, bantuan langsung tunai (BLT) Kemensos, dan BLT dana desa atau BLT APBD. 

Titin Handayani (31), sang ibu balita hidrosefalus itu mengatakan putri keduanya itu divonis oleh dokter mengidap hidrosefalus sejak dua bulan terakhir. Bahkan, putrinya itu baru sepekan terakhir selesai menjalani operasi pada kepalanya. 

"Baru saja pulang dari rumah sakit habis operasi. Alhamdulillah, biaya operasi pakai kartu BPJS yang bayar per bulannya," kata istri dari Dede Suryana itu. 

Dengan serba keterbatasan yang dimilikinya,  Titin menyayangkan tidak ada satu pun pemerintah desa setempat yang peduli dengan kondisi mereka. Apalagi di tengah pandemi virus Covid-19, satu pun bantuan tidak ada yang diterimanya. 

"Sejauh ini kepedulian dari desa tidak ada. Jangankan ngasih bantuan, nengok saja tidak mau. Bahkan, saya sering diminta kartu keluarga untuk bakal dapat bantuan. Hingga kini tidak ada realisasinya," kata dia. 

Titin berharap kepada siapapun ada dermawan yang hibah dengan kondisi mereka saat ini dalam memperjuangkan putri kesayangannya kembali normal.

"Sepuluh hari kedepan kami harus kontrol ke Rumah Sakit Imannuel. Harapan kami, mudah-mudahan ada yang iba, mau bantu kami," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar